Tujuan utama MOLITAV adalah menghadirkan alat monitoring pasien yang dapat digunakan secara luas, termasuk di daerah-daerah dengan keterbatasan fasilitas medis.
MOLITAV Inovasi Alat Monitoring Pasien Non-Invasif, Cepat, dan Portabel Karya Anak Bangsa
Tujuan utama MOLITAV adalah menghadirkan alat monitoring pasien yang dapat digunakan secara luas, termasuk di daerah-daerah dengan keterbatasan fasilitas medis.
Permasalahan pemeriksaan kesehatan di Indonesia masih diwarnai oleh keterbatasan alat monitoring pasien yang invasif, tidak portabel, dan belum terhubung secara real-time. Kondisi ini memperlambat pelayanan medis, meningkatkan biaya, serta membuat akses terhadap alat kesehatan tidak merata—terutama di fasilitas kesehatan kelas C ke bawah. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hingga tahun 2022, hanya sekitar 16,4% fasilitas kesehatan di Indonesia yang memiliki alat monitoring pasien, sementara 94% alat kesehatan masih merupakan produk impor. Situasi ini menjadi dorongan utama lahirnya MOLITAV, inovasi alat pemantauan pasien yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan sistem kesehatan yang lebih cepat, efisien, dan mandiri.
MOLITAV hadir sebagai perangkat monitoring pasien berbasis IoT yang portabel, cepat, dan sepenuhnya non-invasif. Berbeda dengan alat konvensional, MOLITAV memungkinkan pengguna memantau kondisi tubuh hanya dengan meletakkan jari pada sensor, tanpa perlu pengambilan darah atau menembus permukaan kulit. Hasil pemeriksaan dapat diperoleh dalam waktu satu menit, dan data dikirim langsung ke dashboard tenaga medis secara real-time. Inovasi ini menjadikan pemeriksaan kesehatan jauh lebih praktis dan nyaman, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mandiri (self-monitoring dan self-decision making).
Gagasan pengembangan MOLITAV telah berjalan selama enam tahun, namun semangat kewirausahaan mulai tumbuh kuat pada awal tahun 2024. Sang inovator menyadari bahwa hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Tantangan nyata dunia kesehatan hanya bisa dijawab melalui praktik dan keberanian untuk membangun bisnis berbasis inovasi lokal. Dari sinilah, MOLITAV bertransformasi menjadi startup di bidang alat kesehatan (ALKES UMKM) yang berkomitmen menguatkan kemandirian industri alat kesehatan nasional.
MOLITAV, Alat Monitoring Pasien Non-Invasif, Cepat, dan Portabel
Tujuan utama MOLITAV adalah menghadirkan alat pemantauan pasien yang dapat digunakan secara luas, termasuk di daerah-daerah dengan keterbatasan fasilitas medis. Keberadaan alat ini diharapkan dapat mempercepat proses pemeriksaan, menekan biaya layanan, serta meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memantau kesehatannya sendiri. Lebih jauh, pengembangan MOLITAV juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi dengan membuka peluang bagi UMKM lokal untuk turut serta dalam produksi alat kesehatan dalam negeri. Dengan demikian, MOLITAV tidak hanya menjawab tantangan di bidang medis, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Sebagaimana disampaikan oleh Direktur Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia (DIRBT UI), Dr. Chairul Hudaya, Ph.D., “Inovasi seperti MOLITAV adalah bentuk nyata kontribusi sivitas akademika dalam memperkuat kemandirian bangsa di bidang kesehatan. Produk ini menunjukkan bahwa riset dapat berdampak langsung bagi masyarakat jika diiringi dengan semangat kewirausahaan dan keberlanjutan.”
Menutup pernyataannya, Juan Karnadi, selaku CEO MOLITAV, menyampaikan harapan kolaboratifnya, “Harapannya ya semua bisa bersinergi. Anda punya latar belakang teknik, medis, atau bahkan hanya semangat belajar — Anda bisa terlibat. Kita bisa kok menciptakan alat-alat kesehatan buatan anak bangsa dan memperbaiki mekanisme pemeriksaan kesehatan di Indonesia yang masih banyak manual di 80% fasilitas kesehatan kita sendiri. Mari kita jadikan teknologi ini sebagai alat perjuangan untuk kemandirian kesehatan Indonesia.”
Dengan prinsip cepat, portabel, dan non-invasif, MOLITAV menegaskan posisinya sebagai inovasi strategis yang tidak hanya membawa manfaat bagi sektor kesehatan, tetapi juga memperkuat ekosistem teknologi medis buatan Indonesia menuju masa depan yang lebih mandiri dan berdaya.
Di tengah meningkatnya kebutuhan akan pemantauan kesehatan yang cepat, akurat, dan mudah digunakan, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) memperkenalkan Molitav — solusi pemantauan lima tanda vital secara real-time yang sepenuhnya non-invasif dan terjangkau.
Molitav, singkatan dari Monitoring Lima Tanda Vital, dirancang untuk mendeteksi potensi masalah kesehatan sejak dini melalui pengukuran detak jantung, saturasi oksigen (SpO₂), suhu tubuh, laju pernapasan, dan kadar kolesterol. Berbeda dengan alat konvensional, Molitav menggunakan teknologi totally non-invasive, yang artinya seluruh proses pemantauan dilakukan tanpa menusuk kulit atau menimbulkan rasa nyeri, sehingga aman dan nyaman, terutama untuk bayi dan pasien sensitif.
Keunggulan Molitav terletak pada kelengkapan parameter, portabilitas, kemudahan penggunaan, serta harga yang lebih terjangkau dibandingkan alat pemantauan konvensional yang umumnya besar dan mahal.
“Keunggulan Molitav terletak pada kombinasi fitur yang lengkap, mulai dari pengukuran detak jantung, saturasi oksigen, suhu tubuh, laju pernapasan, hingga kadar kolesterol. Selain itu, alat ini portabel, mudah digunakan, dan harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan perangkat monitoring konvensional yang cenderung mahal dan tidak praktis untuk penggunaan sehari-hari,” ujar Mutia Annisa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah FIK UI 2024 sekaligus Chief Product Officer (CPO) Molitav.
Molitav menggunakan sensor portabel melalui penempelan jari tangan dan mengirimkan data secara nirkabel ke platform pemantauan. Jika ditemukan kondisi tidak normal, ada parameter yang muncul pada aplikasi IoT berbasis Android melalui Bluetooth dan/atau WiFi. tenaga medis atau pengguna dapat memantau secara real-time pada dashboard. Data yang tersimpan secara digital juga memudahkan pelacakan kondisi pasien secara berkelanjutan.
Di balik Molitav berdiri tim multidisiplin yang menggabungkan keahlian di bidang teknologi dan praktik klinis. Tim ini terdiri dari Juan Karnadi, mahasiswa Magister Teknik Biomedis Fakultas Teknik UI 2024 yang berperan sebagai Founder & CEO; Rio A. Fajarin, alumnus Teknik Elektro Fakultas Teknik UI 2014 sebagai Co-Founder & COO; Mutia Annisa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah FIK UI 2024 sebagai Chief Product Officer (CPO); serta Rifqi Alifa, mahasiswa Magister Keperawatan Onkologi FIK UI 2024 sebagai Chief Medical Officer (CMO). Kolaborasi lintas disiplin ini menjadi fondasi kuat dalam merancang solusi kesehatan yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan klinis di lapangan.
Selama mengikuti Hackathon UI Incubate Pathway 2025, tim Molitav menghadapi tantangan dalam menyatukan berbagai jenis sensor kesehatan ke dalam satu sistem yang sederhana, efektif, dan ramah pengguna. Namun, berkat kolaborasi erat antaranggota tim yang berasal dari latar belakang klinis dan teknologi, tantangan tersebut berhasil diatasi. “Kami fokus pada antarmuka yang intuitif agar teknologi ini bisa digunakan oleh siapa pun, baik tenaga kesehatan maupun keluarga di rumah,” jelas Juan Karnadi, Founder & CEO Molitav.
Tak berhenti di situ, tim Molitav kini tengah mengembangkan fitur lanjutan seperti pemantauan glukosa darah dan tekanan darah. Mereka juga aktif menjajaki kemitraan strategis dengan berbagai klinik, rumah sakit, dan mitra industri alat kesehatan untuk memastikan bahwa teknologi ini bisa segera diterapkan secara nyata di lapangan. Program inkubasi lanjutan dan uji coba produk juga sedang dirancang untuk mempercepat peluncuran ke publik.
“Kami percaya bahwa akses terhadap pemantauan kesehatan yang aman, akurat, dan mudah digunakan adalah hak semua orang. Molitav adalah wujud kontribusi kami untuk menghadirkan alat kesehatan yang cerdas, inklusif, dan berdampak,” ujar Rifqi Alifa, Chief Medical Officer Molitav sekaligus mahasiswa Magister Keperawatan Onkologi FIK UI 2024.
Keberhasilan Molitav juga menjadi cerminan bagaimana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) terus mendorong peran perawat sebagai pelopor inovasi dalam sistem kesehatan. FIK UI tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi klinis, tetapi juga dengan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan solutif dalam menghadapi tantangan nyata di masyarakat.
Dengan mendukung mahasiswa dalam menghasilkan inovasi seperti Molitav, FIK UI mempertegas posisinya sebagai institusi keperawatan unggul dan berdampak (impactful) yang berkontribusi aktif dalam pengembangan teknologi kesehatan yang humanis dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Molitav menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas bidang — antara ilmu teknik dan keperawatan — mampu melahirkan solusi konkret yang relevan, terjangkau, dan mudah diakses. Sebuah langkah kecil dari kampus, namun membawa potensi perubahan besar bagi dunia kesehatan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga secara global.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Di tengah meningkatnya kebutuhan akan pemantauan kesehatan yang cepat, akurat, dan mudah digunakan, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) memperkenalkan Molitav — solusi pemantauan lima tanda vital secara real-time yang sepenuhnya non-invasif dan terjangkau.
Molitav, singkatan dari Monitoring Lima Tanda Vital, dirancang untuk mendeteksi potensi masalah kesehatan sejak dini melalui pengukuran detak jantung, saturasi oksigen (SpO₂), suhu tubuh, laju pernapasan, dan kadar kolesterol. Berbeda dengan alat konvensional, Molitav menggunakan teknologi totally non-invasive, yang artinya seluruh proses pemantauan dilakukan tanpa menusuk kulit atau menimbulkan rasa nyeri, sehingga aman dan nyaman, terutama untuk bayi dan pasien sensitif.
Keunggulan Molitav terletak pada kelengkapan parameter, portabilitas, kemudahan penggunaan, serta harga yang lebih terjangkau dibandingkan alat pemantauan konvensional yang umumnya besar dan mahal.
“Keunggulan Molitav terletak pada kombinasi fitur yang lengkap, mulai dari pengukuran detak jantung, saturasi oksigen, suhu tubuh, laju pernapasan, hingga kadar kolesterol. Selain itu, alat ini portabel, mudah digunakan, dan harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan perangkat monitoring konvensional yang cenderung mahal dan tidak praktis untuk penggunaan sehari-hari,” ujar Mutia Annisa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah FIK UI 2024 sekaligus Chief Product Officer (CPO) Molitav.
Molitav menggunakan sensor portabel melalui penempelan jari tangan dan mengirimkan data secara nirkabel ke platform pemantauan. Jika ditemukan kondisi tidak normal, ada parameter yang muncul pada aplikasi IoT berbasis Android melalui Bluetooth dan/atau WiFi. tenaga medis atau pengguna dapat memantau secara real-time pada dashboard. Data yang tersimpan secara digital juga memudahkan pelacakan kondisi pasien secara berkelanjutan.
Di balik Molitav berdiri tim multidisiplin yang menggabungkan keahlian di bidang teknologi dan praktik klinis. Tim ini terdiri dari Juan Karnadi, mahasiswa Magister Teknik Biomedis Fakultas Teknik UI 2024 yang berperan sebagai Founder & CEO; Rio A. Fajarin, alumnus Teknik Elektro Fakultas Teknik UI 2014 sebagai Co-Founder & COO; Mutia Annisa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah FIK UI 2024 sebagai Chief Product Officer (CPO); serta Rifqi Alifa, mahasiswa Magister Keperawatan Onkologi FIK UI 2024 sebagai Chief Medical Officer (CMO). Kolaborasi lintas disiplin ini menjadi fondasi kuat dalam merancang solusi kesehatan yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan klinis di lapangan.
Selama mengikuti Hackathon UI Incubate Pathway 2025, tim Molitav menghadapi tantangan dalam menyatukan berbagai jenis sensor kesehatan ke dalam satu sistem yang sederhana, efektif, dan ramah pengguna. Namun, berkat kolaborasi erat antaranggota tim yang berasal dari latar belakang klinis dan teknologi, tantangan tersebut berhasil diatasi. “Kami fokus pada antarmuka yang intuitif agar teknologi ini bisa digunakan oleh siapa pun, baik tenaga kesehatan maupun keluarga di rumah,” jelas Juan Karnadi, Founder & CEO Molitav.
Tak berhenti di situ, tim Molitav kini tengah mengembangkan fitur lanjutan seperti pemantauan glukosa darah dan tekanan darah. Mereka juga aktif menjajaki kemitraan strategis dengan berbagai klinik, rumah sakit, dan mitra industri alat kesehatan untuk memastikan bahwa teknologi ini bisa segera diterapkan secara nyata di lapangan. Program inkubasi lanjutan dan uji coba produk juga sedang dirancang untuk mempercepat peluncuran ke publik.
“Kami percaya bahwa akses terhadap pemantauan kesehatan yang aman, akurat, dan mudah digunakan adalah hak semua orang. Molitav adalah wujud kontribusi kami untuk menghadirkan alat kesehatan yang cerdas, inklusif, dan berdampak,” ujar Rifqi Alifa, Chief Medical Officer Molitav sekaligus mahasiswa Magister Keperawatan Onkologi FIK UI 2024.
Keberhasilan Molitav juga menjadi cerminan bagaimana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) terus mendorong peran perawat sebagai pelopor inovasi dalam sistem kesehatan. FIK UI tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi klinis, tetapi juga dengan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan solutif dalam menghadapi tantangan nyata di masyarakat.
Dengan mendukung mahasiswa dalam menghasilkan inovasi seperti Molitav, FIK UI mempertegas posisinya sebagai institusi keperawatan unggul dan berdampak (impactful) yang berkontribusi aktif dalam pengembangan teknologi kesehatan yang humanis dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Molitav menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas bidang — antara ilmu teknik dan keperawatan — mampu melahirkan solusi konkret yang relevan, terjangkau, dan mudah diakses. Sebuah langkah kecil dari kampus, namun membawa potensi perubahan besar bagi dunia kesehatan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga secara global.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Di tengah meningkatnya kebutuhan akan pemantauan kesehatan yang cepat, akurat, dan mudah digunakan, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) memperkenalkan Molitav — solusi pemantauan lima tanda vital secara real-time yang sepenuhnya non-invasif dan terjangkau.
Molitav, singkatan dari Monitoring Lima Tanda Vital, dirancang untuk mendeteksi potensi masalah kesehatan sejak dini melalui pengukuran detak jantung, saturasi oksigen (SpO₂), suhu tubuh, laju pernapasan, dan kadar kolesterol. Berbeda dengan alat konvensional, Molitav menggunakan teknologi totally non-invasive, yang artinya seluruh proses pemantauan dilakukan tanpa menusuk kulit atau menimbulkan rasa nyeri, sehingga aman dan nyaman, terutama untuk bayi dan pasien sensitif.
Keunggulan Molitav terletak pada kelengkapan parameter, portabilitas, kemudahan penggunaan, serta harga yang lebih terjangkau dibandingkan alat pemantauan konvensional yang umumnya besar dan mahal.
“Keunggulan Molitav terletak pada kombinasi fitur yang lengkap, mulai dari pengukuran detak jantung, saturasi oksigen, suhu tubuh, laju pernapasan, hingga kadar kolesterol. Selain itu, alat ini portabel, mudah digunakan, dan harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan perangkat monitoring konvensional yang cenderung mahal dan tidak praktis untuk penggunaan sehari-hari,” ujar Mutia Annisa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah FIK UI 2024 sekaligus Chief Product Officer (CPO) Molitav.
Molitav menggunakan sensor portabel melalui penempelan jari tangan dan mengirimkan data secara nirkabel ke platform pemantauan. Jika ditemukan kondisi tidak normal, ada parameter yang muncul pada aplikasi IoT berbasis Android melalui Bluetooth dan/atau WiFi. tenaga medis atau pengguna dapat memantau secara real-time pada dashboard. Data yang tersimpan secara digital juga memudahkan pelacakan kondisi pasien secara berkelanjutan.
Di balik Molitav berdiri tim multidisiplin yang menggabungkan keahlian di bidang teknologi dan praktik klinis. Tim ini terdiri dari Juan Karnadi, mahasiswa Magister Teknik Biomedis Fakultas Teknik UI 2024 yang berperan sebagai Founder & CEO; Rio A. Fajarin, alumnus Teknik Elektro Fakultas Teknik UI 2014 sebagai Co-Founder & COO; Mutia Annisa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah FIK UI 2024 sebagai Chief Product Officer (CPO); serta Rifqi Alifa, mahasiswa Magister Keperawatan Onkologi FIK UI 2024 sebagai Chief Medical Officer (CMO). Kolaborasi lintas disiplin ini menjadi fondasi kuat dalam merancang solusi kesehatan yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan klinis di lapangan.
Selama mengikuti Hackathon UI Incubate Pathway 2025, tim Molitav menghadapi tantangan dalam menyatukan berbagai jenis sensor kesehatan ke dalam satu sistem yang sederhana, efektif, dan ramah pengguna. Namun, berkat kolaborasi erat antaranggota tim yang berasal dari latar belakang klinis dan teknologi, tantangan tersebut berhasil diatasi. “Kami fokus pada antarmuka yang intuitif agar teknologi ini bisa digunakan oleh siapa pun, baik tenaga kesehatan maupun keluarga di rumah,” jelas Juan Karnadi, Founder & CEO Molitav.
Tak berhenti di situ, tim Molitav kini tengah mengembangkan fitur lanjutan seperti pemantauan glukosa darah dan tekanan darah. Mereka juga aktif menjajaki kemitraan strategis dengan berbagai klinik, rumah sakit, dan mitra industri alat kesehatan untuk memastikan bahwa teknologi ini bisa segera diterapkan secara nyata di lapangan. Program inkubasi lanjutan dan uji coba produk juga sedang dirancang untuk mempercepat peluncuran ke publik.
“Kami percaya bahwa akses terhadap pemantauan kesehatan yang aman, akurat, dan mudah digunakan adalah hak semua orang. Molitav adalah wujud kontribusi kami untuk menghadirkan alat kesehatan yang cerdas, inklusif, dan berdampak,” ujar Rifqi Alifa, Chief Medical Officer Molitav sekaligus mahasiswa Magister Keperawatan Onkologi FIK UI 2024.
Keberhasilan Molitav juga menjadi cerminan bagaimana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) terus mendorong peran perawat sebagai pelopor inovasi dalam sistem kesehatan. FIK UI tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi klinis, tetapi juga dengan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan solutif dalam menghadapi tantangan nyata di masyarakat.
Dengan mendukung mahasiswa dalam menghasilkan inovasi seperti Molitav, FIK UI mempertegas posisinya sebagai institusi keperawatan unggul dan berdampak (impactful) yang berkontribusi aktif dalam pengembangan teknologi kesehatan yang humanis dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Molitav menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas bidang — antara ilmu teknik dan keperawatan — mampu melahirkan solusi konkret yang relevan, terjangkau, dan mudah diakses. Sebuah langkah kecil dari kampus, namun membawa potensi perubahan besar bagi dunia kesehatan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga secara global.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Di tengah meningkatnya kebutuhan akan pemantauan kesehatan yang cepat, akurat, dan mudah digunakan, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) memperkenalkan Molitav — solusi pemantauan lima tanda vital secara real-time yang sepenuhnya non-invasif dan terjangkau.
Molitav, singkatan dari Monitoring Lima Tanda Vital, dirancang untuk mendeteksi potensi masalah kesehatan sejak dini melalui pengukuran detak jantung, saturasi oksigen (SpO₂), suhu tubuh, laju pernapasan, dan kadar kolesterol. Berbeda dengan alat konvensional, Molitav menggunakan teknologi totally non-invasive, yang artinya seluruh proses pemantauan dilakukan tanpa menusuk kulit atau menimbulkan rasa nyeri, sehingga aman dan nyaman, terutama untuk bayi dan pasien sensitif.
Keunggulan Molitav terletak pada kelengkapan parameter, portabilitas, kemudahan penggunaan, serta harga yang lebih terjangkau dibandingkan alat pemantauan konvensional yang umumnya besar dan mahal.
“Keunggulan Molitav terletak pada kombinasi fitur yang lengkap, mulai dari pengukuran detak jantung, saturasi oksigen, suhu tubuh, laju pernapasan, hingga kadar kolesterol. Selain itu, alat ini portabel, mudah digunakan, dan harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan perangkat monitoring konvensional yang cenderung mahal dan tidak praktis untuk penggunaan sehari-hari,” ujar Mutia Annisa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah FIK UI 2024 sekaligus Chief Product Officer (CPO) Molitav.
Molitav menggunakan sensor portabel melalui penempelan jari tangan dan mengirimkan data secara nirkabel ke platform pemantauan. Jika ditemukan kondisi tidak normal, ada parameter yang muncul pada aplikasi IoT berbasis Android melalui Bluetooth dan/atau WiFi. tenaga medis atau pengguna dapat memantau secara real-time pada dashboard. Data yang tersimpan secara digital juga memudahkan pelacakan kondisi pasien secara berkelanjutan.
Di balik Molitav berdiri tim multidisiplin yang menggabungkan keahlian di bidang teknologi dan praktik klinis. Tim ini terdiri dari Juan Karnadi, mahasiswa Magister Teknik Biomedis Fakultas Teknik UI 2024 yang berperan sebagai Founder & CEO; Rio A. Fajarin, alumnus Teknik Elektro Fakultas Teknik UI 2014 sebagai Co-Founder & COO; Mutia Annisa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah FIK UI 2024 sebagai Chief Product Officer (CPO); serta Rifqi Alifa, mahasiswa Magister Keperawatan Onkologi FIK UI 2024 sebagai Chief Medical Officer (CMO). Kolaborasi lintas disiplin ini menjadi fondasi kuat dalam merancang solusi kesehatan yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan klinis di lapangan.
Selama mengikuti Hackathon UI Incubate Pathway 2025, tim Molitav menghadapi tantangan dalam menyatukan berbagai jenis sensor kesehatan ke dalam satu sistem yang sederhana, efektif, dan ramah pengguna. Namun, berkat kolaborasi erat antaranggota tim yang berasal dari latar belakang klinis dan teknologi, tantangan tersebut berhasil diatasi. “Kami fokus pada antarmuka yang intuitif agar teknologi ini bisa digunakan oleh siapa pun, baik tenaga kesehatan maupun keluarga di rumah,” jelas Juan Karnadi, Founder & CEO Molitav.
Tak berhenti di situ, tim Molitav kini tengah mengembangkan fitur lanjutan seperti pemantauan glukosa darah dan tekanan darah. Mereka juga aktif menjajaki kemitraan strategis dengan berbagai klinik, rumah sakit, dan mitra industri alat kesehatan untuk memastikan bahwa teknologi ini bisa segera diterapkan secara nyata di lapangan. Program inkubasi lanjutan dan uji coba produk juga sedang dirancang untuk mempercepat peluncuran ke publik.
“Kami percaya bahwa akses terhadap pemantauan kesehatan yang aman, akurat, dan mudah digunakan adalah hak semua orang. Molitav adalah wujud kontribusi kami untuk menghadirkan alat kesehatan yang cerdas, inklusif, dan berdampak,” ujar Rifqi Alifa, Chief Medical Officer Molitav sekaligus mahasiswa Magister Keperawatan Onkologi FIK UI 2024.
Keberhasilan Molitav juga menjadi cerminan bagaimana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) terus mendorong peran perawat sebagai pelopor inovasi dalam sistem kesehatan. FIK UI tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi klinis, tetapi juga dengan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan solutif dalam menghadapi tantangan nyata di masyarakat.
Dengan mendukung mahasiswa dalam menghasilkan inovasi seperti Molitav, FIK UI mempertegas posisinya sebagai institusi keperawatan unggul dan berdampak (impactful) yang berkontribusi aktif dalam pengembangan teknologi kesehatan yang humanis dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Molitav menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas bidang — antara ilmu teknik dan keperawatan — mampu melahirkan solusi konkret yang relevan, terjangkau, dan mudah diakses. Sebuah langkah kecil dari kampus, namun membawa potensi perubahan besar bagi dunia kesehatan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga secara global.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Di tengah meningkatnya kebutuhan akan pemantauan kesehatan yang cepat, akurat, dan mudah digunakan, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) memperkenalkan Molitav — solusi pemantauan lima tanda vital secara real-time yang sepenuhnya non-invasif dan terjangkau.
Molitav, singkatan dari Monitoring Lima Tanda Vital, dirancang untuk mendeteksi potensi masalah kesehatan sejak dini melalui pengukuran detak jantung, saturasi oksigen (SpO₂), suhu tubuh, laju pernapasan, dan kadar kolesterol. Berbeda dengan alat konvensional, Molitav menggunakan teknologi totally non-invasive, yang artinya seluruh proses pemantauan dilakukan tanpa menusuk kulit atau menimbulkan rasa nyeri, sehingga aman dan nyaman, terutama untuk bayi dan pasien sensitif.
Keunggulan Molitav terletak pada kelengkapan parameter, portabilitas, kemudahan penggunaan, serta harga yang lebih terjangkau dibandingkan alat pemantauan konvensional yang umumnya besar dan mahal.
“Keunggulan Molitav terletak pada kombinasi fitur yang lengkap, mulai dari pengukuran detak jantung, saturasi oksigen, suhu tubuh, laju pernapasan, hingga kadar kolesterol. Selain itu, alat ini portabel, mudah digunakan, dan harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan perangkat monitoring konvensional yang cenderung mahal dan tidak praktis untuk penggunaan sehari-hari,” ujar Mutia Annisa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah FIK UI 2024 sekaligus Chief Product Officer (CPO) Molitav.
Molitav menggunakan sensor portabel melalui penempelan jari tangan dan mengirimkan data secara nirkabel ke platform pemantauan. Jika ditemukan kondisi tidak normal, ada parameter yang muncul pada aplikasi IoT berbasis Android melalui Bluetooth dan/atau WiFi. tenaga medis atau pengguna dapat memantau secara real-time pada dashboard. Data yang tersimpan secara digital juga memudahkan pelacakan kondisi pasien secara berkelanjutan.
Di balik Molitav berdiri tim multidisiplin yang menggabungkan keahlian di bidang teknologi dan praktik klinis. Tim ini terdiri dari Juan Karnadi, mahasiswa Magister Teknik Biomedis Fakultas Teknik UI 2024 yang berperan sebagai Founder & CEO; Rio A. Fajarin, alumnus Teknik Elektro Fakultas Teknik UI 2014 sebagai Co-Founder & COO; Mutia Annisa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah FIK UI 2024 sebagai Chief Product Officer (CPO); serta Rifqi Alifa, mahasiswa Magister Keperawatan Onkologi FIK UI 2024 sebagai Chief Medical Officer (CMO). Kolaborasi lintas disiplin ini menjadi fondasi kuat dalam merancang solusi kesehatan yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan klinis di lapangan.
Selama mengikuti Hackathon UI Incubate Pathway 2025, tim Molitav menghadapi tantangan dalam menyatukan berbagai jenis sensor kesehatan ke dalam satu sistem yang sederhana, efektif, dan ramah pengguna. Namun, berkat kolaborasi erat antaranggota tim yang berasal dari latar belakang klinis dan teknologi, tantangan tersebut berhasil diatasi. “Kami fokus pada antarmuka yang intuitif agar teknologi ini bisa digunakan oleh siapa pun, baik tenaga kesehatan maupun keluarga di rumah,” jelas Juan Karnadi, Founder & CEO Molitav.
Tak berhenti di situ, tim Molitav kini tengah mengembangkan fitur lanjutan seperti pemantauan glukosa darah dan tekanan darah. Mereka juga aktif menjajaki kemitraan strategis dengan berbagai klinik, rumah sakit, dan mitra industri alat kesehatan untuk memastikan bahwa teknologi ini bisa segera diterapkan secara nyata di lapangan. Program inkubasi lanjutan dan uji coba produk juga sedang dirancang untuk mempercepat peluncuran ke publik.
“Kami percaya bahwa akses terhadap pemantauan kesehatan yang aman, akurat, dan mudah digunakan adalah hak semua orang. Molitav adalah wujud kontribusi kami untuk menghadirkan alat kesehatan yang cerdas, inklusif, dan berdampak,” ujar Rifqi Alifa, Chief Medical Officer Molitav sekaligus mahasiswa Magister Keperawatan Onkologi FIK UI 2024.
Keberhasilan Molitav juga menjadi cerminan bagaimana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) terus mendorong peran perawat sebagai pelopor inovasi dalam sistem kesehatan. FIK UI tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi klinis, tetapi juga dengan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan solutif dalam menghadapi tantangan nyata di masyarakat.
Dengan mendukung mahasiswa dalam menghasilkan inovasi seperti Molitav, FIK UI mempertegas posisinya sebagai institusi keperawatan unggul dan berdampak (impactful) yang berkontribusi aktif dalam pengembangan teknologi kesehatan yang humanis dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Molitav menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas bidang — antara ilmu teknik dan keperawatan — mampu melahirkan solusi konkret yang relevan, terjangkau, dan mudah diakses. Sebuah langkah kecil dari kampus, namun membawa potensi perubahan besar bagi dunia kesehatan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga secara global.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Di tengah meningkatnya kebutuhan akan pemantauan kesehatan yang cepat, akurat, dan mudah digunakan, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) memperkenalkan Molitav — solusi pemantauan lima tanda vital secara real-time yang sepenuhnya non-invasif dan terjangkau.
Molitav, singkatan dari Monitoring Lima Tanda Vital, dirancang untuk mendeteksi potensi masalah kesehatan sejak dini melalui pengukuran detak jantung, saturasi oksigen (SpO₂), suhu tubuh, laju pernapasan, dan kadar kolesterol. Berbeda dengan alat konvensional, Molitav menggunakan teknologi totally non-invasive, yang artinya seluruh proses pemantauan dilakukan tanpa menusuk kulit atau menimbulkan rasa nyeri, sehingga aman dan nyaman, terutama untuk bayi dan pasien sensitif.
Keunggulan Molitav terletak pada kelengkapan parameter, portabilitas, kemudahan penggunaan, serta harga yang lebih terjangkau dibandingkan alat pemantauan konvensional yang umumnya besar dan mahal.
“Keunggulan Molitav terletak pada kombinasi fitur yang lengkap, mulai dari pengukuran detak jantung, saturasi oksigen, suhu tubuh, laju pernapasan, hingga kadar kolesterol. Selain itu, alat ini portabel, mudah digunakan, dan harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan perangkat monitoring konvensional yang cenderung mahal dan tidak praktis untuk penggunaan sehari-hari,” ujar Mutia Annisa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah FIK UI 2024 sekaligus Chief Product Officer (CPO) Molitav.
Molitav menggunakan sensor portabel melalui penempelan jari tangan dan mengirimkan data secara nirkabel ke platform pemantauan. Jika ditemukan kondisi tidak normal, ada parameter yang muncul pada aplikasi IoT berbasis Android melalui Bluetooth dan/atau WiFi. tenaga medis atau pengguna dapat memantau secara real-time pada dashboard. Data yang tersimpan secara digital juga memudahkan pelacakan kondisi pasien secara berkelanjutan.
Di balik Molitav berdiri tim multidisiplin yang menggabungkan keahlian di bidang teknologi dan praktik klinis. Tim ini terdiri dari Juan Karnadi, mahasiswa Magister Teknik Biomedis Fakultas Teknik UI 2024 yang berperan sebagai Founder & CEO; Rio A. Fajarin, alumnus Teknik Elektro Fakultas Teknik UI 2014 sebagai Co-Founder & COO; Mutia Annisa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah FIK UI 2024 sebagai Chief Product Officer (CPO); serta Rifqi Alifa, mahasiswa Magister Keperawatan Onkologi FIK UI 2024 sebagai Chief Medical Officer (CMO). Kolaborasi lintas disiplin ini menjadi fondasi kuat dalam merancang solusi kesehatan yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan klinis di lapangan.
Selama mengikuti Hackathon UI Incubate Pathway 2025, tim Molitav menghadapi tantangan dalam menyatukan berbagai jenis sensor kesehatan ke dalam satu sistem yang sederhana, efektif, dan ramah pengguna. Namun, berkat kolaborasi erat antaranggota tim yang berasal dari latar belakang klinis dan teknologi, tantangan tersebut berhasil diatasi. “Kami fokus pada antarmuka yang intuitif agar teknologi ini bisa digunakan oleh siapa pun, baik tenaga kesehatan maupun keluarga di rumah,” jelas Juan Karnadi, Founder & CEO Molitav.
Tak berhenti di situ, tim Molitav kini tengah mengembangkan fitur lanjutan seperti pemantauan glukosa darah dan tekanan darah. Mereka juga aktif menjajaki kemitraan strategis dengan berbagai klinik, rumah sakit, dan mitra industri alat kesehatan untuk memastikan bahwa teknologi ini bisa segera diterapkan secara nyata di lapangan. Program inkubasi lanjutan dan uji coba produk juga sedang dirancang untuk mempercepat peluncuran ke publik.
“Kami percaya bahwa akses terhadap pemantauan kesehatan yang aman, akurat, dan mudah digunakan adalah hak semua orang. Molitav adalah wujud kontribusi kami untuk menghadirkan alat kesehatan yang cerdas, inklusif, dan berdampak,” ujar Rifqi Alifa, Chief Medical Officer Molitav sekaligus mahasiswa Magister Keperawatan Onkologi FIK UI 2024.
Keberhasilan Molitav juga menjadi cerminan bagaimana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) terus mendorong peran perawat sebagai pelopor inovasi dalam sistem kesehatan. FIK UI tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi klinis, tetapi juga dengan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan solutif dalam menghadapi tantangan nyata di masyarakat.
Dengan mendukung mahasiswa dalam menghasilkan inovasi seperti Molitav, FIK UI mempertegas posisinya sebagai institusi keperawatan unggul dan berdampak (impactful) yang berkontribusi aktif dalam pengembangan teknologi kesehatan yang humanis dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Molitav menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas bidang — antara ilmu teknik dan keperawatan — mampu melahirkan solusi konkret yang relevan, terjangkau, dan mudah diakses. Sebuah langkah kecil dari kampus, namun membawa potensi perubahan besar bagi dunia kesehatan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga secara global.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Di tengah meningkatnya kebutuhan akan pemantauan kesehatan yang cepat, akurat, dan mudah digunakan, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) memperkenalkan Molitav — solusi pemantauan lima tanda vital secara real-time yang sepenuhnya non-invasif dan terjangkau.
Molitav, singkatan dari Monitoring Lima Tanda Vital, dirancang untuk mendeteksi potensi masalah kesehatan sejak dini melalui pengukuran detak jantung, saturasi oksigen (SpO₂), suhu tubuh, laju pernapasan, dan kadar kolesterol. Berbeda dengan alat konvensional, Molitav menggunakan teknologi totally non-invasive, yang artinya seluruh proses pemantauan dilakukan tanpa menusuk kulit atau menimbulkan rasa nyeri, sehingga aman dan nyaman, terutama untuk bayi dan pasien sensitif.
Keunggulan Molitav terletak pada kelengkapan parameter, portabilitas, kemudahan penggunaan, serta harga yang lebih terjangkau dibandingkan alat pemantauan konvensional yang umumnya besar dan mahal.
“Keunggulan Molitav terletak pada kombinasi fitur yang lengkap, mulai dari pengukuran detak jantung, saturasi oksigen, suhu tubuh, laju pernapasan, hingga kadar kolesterol. Selain itu, alat ini portabel, mudah digunakan, dan harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan perangkat monitoring konvensional yang cenderung mahal dan tidak praktis untuk penggunaan sehari-hari,” ujar Mutia Annisa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah FIK UI 2024 sekaligus Chief Product Officer (CPO) Molitav.
Molitav menggunakan sensor portabel melalui penempelan jari tangan dan mengirimkan data secara nirkabel ke platform pemantauan. Jika ditemukan kondisi tidak normal, ada parameter yang muncul pada aplikasi IoT berbasis Android melalui Bluetooth dan/atau WiFi. tenaga medis atau pengguna dapat memantau secara real-time pada dashboard. Data yang tersimpan secara digital juga memudahkan pelacakan kondisi pasien secara berkelanjutan.
Di balik Molitav berdiri tim multidisiplin yang menggabungkan keahlian di bidang teknologi dan praktik klinis. Tim ini terdiri dari Juan Karnadi, mahasiswa Magister Teknik Biomedis Fakultas Teknik UI 2024 yang berperan sebagai Founder & CEO; Rio A. Fajarin, alumnus Teknik Elektro Fakultas Teknik UI 2014 sebagai Co-Founder & COO; Mutia Annisa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah FIK UI 2024 sebagai Chief Product Officer (CPO); serta Rifqi Alifa, mahasiswa Magister Keperawatan Onkologi FIK UI 2024 sebagai Chief Medical Officer (CMO). Kolaborasi lintas disiplin ini menjadi fondasi kuat dalam merancang solusi kesehatan yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan klinis di lapangan.
Selama mengikuti Hackathon UI Incubate Pathway 2025, tim Molitav menghadapi tantangan dalam menyatukan berbagai jenis sensor kesehatan ke dalam satu sistem yang sederhana, efektif, dan ramah pengguna. Namun, berkat kolaborasi erat antaranggota tim yang berasal dari latar belakang klinis dan teknologi, tantangan tersebut berhasil diatasi. “Kami fokus pada antarmuka yang intuitif agar teknologi ini bisa digunakan oleh siapa pun, baik tenaga kesehatan maupun keluarga di rumah,” jelas Juan Karnadi, Founder & CEO Molitav.
Tak berhenti di situ, tim Molitav kini tengah mengembangkan fitur lanjutan seperti pemantauan glukosa darah dan tekanan darah. Mereka juga aktif menjajaki kemitraan strategis dengan berbagai klinik, rumah sakit, dan mitra industri alat kesehatan untuk memastikan bahwa teknologi ini bisa segera diterapkan secara nyata di lapangan. Program inkubasi lanjutan dan uji coba produk juga sedang dirancang untuk mempercepat peluncuran ke publik.
“Kami percaya bahwa akses terhadap pemantauan kesehatan yang aman, akurat, dan mudah digunakan adalah hak semua orang. Molitav adalah wujud kontribusi kami untuk menghadirkan alat kesehatan yang cerdas, inklusif, dan berdampak,” ujar Rifqi Alifa, Chief Medical Officer Molitav sekaligus mahasiswa Magister Keperawatan Onkologi FIK UI 2024.
Keberhasilan Molitav juga menjadi cerminan bagaimana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) terus mendorong peran perawat sebagai pelopor inovasi dalam sistem kesehatan. FIK UI tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi klinis, tetapi juga dengan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan solutif dalam menghadapi tantangan nyata di masyarakat.
Dengan mendukung mahasiswa dalam menghasilkan inovasi seperti Molitav, FIK UI mempertegas posisinya sebagai institusi keperawatan unggul dan berdampak (impactful) yang berkontribusi aktif dalam pengembangan teknologi kesehatan yang humanis dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Molitav menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas bidang — antara ilmu teknik dan keperawatan — mampu melahirkan solusi konkret yang relevan, terjangkau, dan mudah diakses. Sebuah langkah kecil dari kampus, namun membawa potensi perubahan besar bagi dunia kesehatan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga secara global.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Di tengah meningkatnya kebutuhan akan pemantauan kesehatan yang cepat, akurat, dan mudah digunakan, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) memperkenalkan Molitav — solusi pemantauan lima tanda vital secara real-time yang sepenuhnya non-invasif dan terjangkau.
Molitav, singkatan dari Monitoring Lima Tanda Vital, dirancang untuk mendeteksi potensi masalah kesehatan sejak dini melalui pengukuran detak jantung, saturasi oksigen (SpO₂), suhu tubuh, laju pernapasan, dan kadar kolesterol. Berbeda dengan alat konvensional, Molitav menggunakan teknologi totally non-invasive, yang artinya seluruh proses pemantauan dilakukan tanpa menusuk kulit atau menimbulkan rasa nyeri, sehingga aman dan nyaman, terutama untuk bayi dan pasien sensitif.
Keunggulan Molitav terletak pada kelengkapan parameter, portabilitas, kemudahan penggunaan, serta harga yang lebih terjangkau dibandingkan alat pemantauan konvensional yang umumnya besar dan mahal.
“Keunggulan Molitav terletak pada kombinasi fitur yang lengkap, mulai dari pengukuran detak jantung, saturasi oksigen, suhu tubuh, laju pernapasan, hingga kadar kolesterol. Selain itu, alat ini portabel, mudah digunakan, dan harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan perangkat monitoring konvensional yang cenderung mahal dan tidak praktis untuk penggunaan sehari-hari,” ujar Mutia Annisa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah FIK UI 2024 sekaligus Chief Product Officer (CPO) Molitav.
Molitav menggunakan sensor portabel melalui penempelan jari tangan dan mengirimkan data secara nirkabel ke platform pemantauan. Jika ditemukan kondisi tidak normal, ada parameter yang muncul pada aplikasi IoT berbasis Android melalui Bluetooth dan/atau WiFi. tenaga medis atau pengguna dapat memantau secara real-time pada dashboard. Data yang tersimpan secara digital juga memudahkan pelacakan kondisi pasien secara berkelanjutan.
Di balik Molitav berdiri tim multidisiplin yang menggabungkan keahlian di bidang teknologi dan praktik klinis. Tim ini terdiri dari Juan Karnadi, mahasiswa Magister Teknik Biomedis Fakultas Teknik UI 2024 yang berperan sebagai Founder & CEO; Rio A. Fajarin, alumnus Teknik Elektro Fakultas Teknik UI 2014 sebagai Co-Founder & COO; Mutia Annisa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah FIK UI 2024 sebagai Chief Product Officer (CPO); serta Rifqi Alifa, mahasiswa Magister Keperawatan Onkologi FIK UI 2024 sebagai Chief Medical Officer (CMO). Kolaborasi lintas disiplin ini menjadi fondasi kuat dalam merancang solusi kesehatan yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan klinis di lapangan.
Selama mengikuti Hackathon UI Incubate Pathway 2025, tim Molitav menghadapi tantangan dalam menyatukan berbagai jenis sensor kesehatan ke dalam satu sistem yang sederhana, efektif, dan ramah pengguna. Namun, berkat kolaborasi erat antaranggota tim yang berasal dari latar belakang klinis dan teknologi, tantangan tersebut berhasil diatasi. “Kami fokus pada antarmuka yang intuitif agar teknologi ini bisa digunakan oleh siapa pun, baik tenaga kesehatan maupun keluarga di rumah,” jelas Juan Karnadi, Founder & CEO Molitav.
Tak berhenti di situ, tim Molitav kini tengah mengembangkan fitur lanjutan seperti pemantauan glukosa darah dan tekanan darah. Mereka juga aktif menjajaki kemitraan strategis dengan berbagai klinik, rumah sakit, dan mitra industri alat kesehatan untuk memastikan bahwa teknologi ini bisa segera diterapkan secara nyata di lapangan. Program inkubasi lanjutan dan uji coba produk juga sedang dirancang untuk mempercepat peluncuran ke publik.
“Kami percaya bahwa akses terhadap pemantauan kesehatan yang aman, akurat, dan mudah digunakan adalah hak semua orang. Molitav adalah wujud kontribusi kami untuk menghadirkan alat kesehatan yang cerdas, inklusif, dan berdampak,” ujar Rifqi Alifa, Chief Medical Officer Molitav sekaligus mahasiswa Magister Keperawatan Onkologi FIK UI 2024.
Keberhasilan Molitav juga menjadi cerminan bagaimana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) terus mendorong peran perawat sebagai pelopor inovasi dalam sistem kesehatan. FIK UI tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi klinis, tetapi juga dengan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan solutif dalam menghadapi tantangan nyata di masyarakat.
Dengan mendukung mahasiswa dalam menghasilkan inovasi seperti Molitav, FIK UI mempertegas posisinya sebagai institusi keperawatan unggul dan berdampak (impactful) yang berkontribusi aktif dalam pengembangan teknologi kesehatan yang humanis dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Molitav menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas bidang — antara ilmu teknik dan keperawatan — mampu melahirkan solusi konkret yang relevan, terjangkau, dan mudah diakses. Sebuah langkah kecil dari kampus, namun membawa potensi perubahan besar bagi dunia kesehatan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga secara global.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Di tengah meningkatnya kebutuhan akan pemantauan kesehatan yang cepat, akurat, dan mudah digunakan, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) memperkenalkan Molitav — solusi pemantauan lima tanda vital secara real-time yang sepenuhnya non-invasif dan terjangkau.
Molitav, singkatan dari Monitoring Lima Tanda Vital, dirancang untuk mendeteksi potensi masalah kesehatan sejak dini melalui pengukuran detak jantung, saturasi oksigen (SpO₂), suhu tubuh, laju pernapasan, dan kadar kolesterol. Berbeda dengan alat konvensional, Molitav menggunakan teknologi totally non-invasive, yang artinya seluruh proses pemantauan dilakukan tanpa menusuk kulit atau menimbulkan rasa nyeri, sehingga aman dan nyaman, terutama untuk bayi dan pasien sensitif.
Keunggulan Molitav terletak pada kelengkapan parameter, portabilitas, kemudahan penggunaan, serta harga yang lebih terjangkau dibandingkan alat pemantauan konvensional yang umumnya besar dan mahal.
“Keunggulan Molitav terletak pada kombinasi fitur yang lengkap, mulai dari pengukuran detak jantung, saturasi oksigen, suhu tubuh, laju pernapasan, hingga kadar kolesterol. Selain itu, alat ini portabel, mudah digunakan, dan harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan perangkat monitoring konvensional yang cenderung mahal dan tidak praktis untuk penggunaan sehari-hari,” ujar Mutia Annisa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah FIK UI 2024 sekaligus Chief Product Officer (CPO) Molitav.
Molitav menggunakan sensor portabel melalui penempelan jari tangan dan mengirimkan data secara nirkabel ke platform pemantauan. Jika ditemukan kondisi tidak normal, ada parameter yang muncul pada aplikasi IoT berbasis Android melalui Bluetooth dan/atau WiFi. tenaga medis atau pengguna dapat memantau secara real-time pada dashboard. Data yang tersimpan secara digital juga memudahkan pelacakan kondisi pasien secara berkelanjutan.
Di balik Molitav berdiri tim multidisiplin yang menggabungkan keahlian di bidang teknologi dan praktik klinis. Tim ini terdiri dari Juan Karnadi, mahasiswa Magister Teknik Biomedis Fakultas Teknik UI 2024 yang berperan sebagai Founder & CEO; Rio A. Fajarin, alumnus Teknik Elektro Fakultas Teknik UI 2014 sebagai Co-Founder & COO; Mutia Annisa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah FIK UI 2024 sebagai Chief Product Officer (CPO); serta Rifqi Alifa, mahasiswa Magister Keperawatan Onkologi FIK UI 2024 sebagai Chief Medical Officer (CMO). Kolaborasi lintas disiplin ini menjadi fondasi kuat dalam merancang solusi kesehatan yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan klinis di lapangan.
Selama mengikuti Hackathon UI Incubate Pathway 2025, tim Molitav menghadapi tantangan dalam menyatukan berbagai jenis sensor kesehatan ke dalam satu sistem yang sederhana, efektif, dan ramah pengguna. Namun, berkat kolaborasi erat antaranggota tim yang berasal dari latar belakang klinis dan teknologi, tantangan tersebut berhasil diatasi. “Kami fokus pada antarmuka yang intuitif agar teknologi ini bisa digunakan oleh siapa pun, baik tenaga kesehatan maupun keluarga di rumah,” jelas Juan Karnadi, Founder & CEO Molitav.
Tak berhenti di situ, tim Molitav kini tengah mengembangkan fitur lanjutan seperti pemantauan glukosa darah dan tekanan darah. Mereka juga aktif menjajaki kemitraan strategis dengan berbagai klinik, rumah sakit, dan mitra industri alat kesehatan untuk memastikan bahwa teknologi ini bisa segera diterapkan secara nyata di lapangan. Program inkubasi lanjutan dan uji coba produk juga sedang dirancang untuk mempercepat peluncuran ke publik.
“Kami percaya bahwa akses terhadap pemantauan kesehatan yang aman, akurat, dan mudah digunakan adalah hak semua orang. Molitav adalah wujud kontribusi kami untuk menghadirkan alat kesehatan yang cerdas, inklusif, dan berdampak,” ujar Rifqi Alifa, Chief Medical Officer Molitav sekaligus mahasiswa Magister Keperawatan Onkologi FIK UI 2024.
Keberhasilan Molitav juga menjadi cerminan bagaimana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) terus mendorong peran perawat sebagai pelopor inovasi dalam sistem kesehatan. FIK UI tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi klinis, tetapi juga dengan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan solutif dalam menghadapi tantangan nyata di masyarakat.
Dengan mendukung mahasiswa dalam menghasilkan inovasi seperti Molitav, FIK UI mempertegas posisinya sebagai institusi keperawatan unggul dan berdampak (impactful) yang berkontribusi aktif dalam pengembangan teknologi kesehatan yang humanis dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Molitav menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas bidang — antara ilmu teknik dan keperawatan — mampu melahirkan solusi konkret yang relevan, terjangkau, dan mudah diakses. Sebuah langkah kecil dari kampus, namun membawa potensi perubahan besar bagi dunia kesehatan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga secara global.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Di tengah meningkatnya kebutuhan akan pemantauan kesehatan yang cepat, akurat, dan mudah digunakan, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) memperkenalkan Molitav — solusi pemantauan lima tanda vital secara real-time yang sepenuhnya non-invasif dan terjangkau.
Molitav, singkatan dari Monitoring Lima Tanda Vital, dirancang untuk mendeteksi potensi masalah kesehatan sejak dini melalui pengukuran detak jantung, saturasi oksigen (SpO₂), suhu tubuh, laju pernapasan, dan kadar kolesterol. Berbeda dengan alat konvensional, Molitav menggunakan teknologi totally non-invasive, yang artinya seluruh proses pemantauan dilakukan tanpa menusuk kulit atau menimbulkan rasa nyeri, sehingga aman dan nyaman, terutama untuk bayi dan pasien sensitif.
Keunggulan Molitav terletak pada kelengkapan parameter, portabilitas, kemudahan penggunaan, serta harga yang lebih terjangkau dibandingkan alat pemantauan konvensional yang umumnya besar dan mahal.
“Keunggulan Molitav terletak pada kombinasi fitur yang lengkap, mulai dari pengukuran detak jantung, saturasi oksigen, suhu tubuh, laju pernapasan, hingga kadar kolesterol. Selain itu, alat ini portabel, mudah digunakan, dan harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan perangkat monitoring konvensional yang cenderung mahal dan tidak praktis untuk penggunaan sehari-hari,” ujar Mutia Annisa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah FIK UI 2024 sekaligus Chief Product Officer (CPO) Molitav.
Molitav menggunakan sensor portabel melalui penempelan jari tangan dan mengirimkan data secara nirkabel ke platform pemantauan. Jika ditemukan kondisi tidak normal, ada parameter yang muncul pada aplikasi IoT berbasis Android melalui Bluetooth dan/atau WiFi. tenaga medis atau pengguna dapat memantau secara real-time pada dashboard. Data yang tersimpan secara digital juga memudahkan pelacakan kondisi pasien secara berkelanjutan.
Di balik Molitav berdiri tim multidisiplin yang menggabungkan keahlian di bidang teknologi dan praktik klinis. Tim ini terdiri dari Juan Karnadi, mahasiswa Magister Teknik Biomedis Fakultas Teknik UI 2024 yang berperan sebagai Founder & CEO; Rio A. Fajarin, alumnus Teknik Elektro Fakultas Teknik UI 2014 sebagai Co-Founder & COO; Mutia Annisa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah FIK UI 2024 sebagai Chief Product Officer (CPO); serta Rifqi Alifa, mahasiswa Magister Keperawatan Onkologi FIK UI 2024 sebagai Chief Medical Officer (CMO). Kolaborasi lintas disiplin ini menjadi fondasi kuat dalam merancang solusi kesehatan yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan klinis di lapangan.
Selama mengikuti Hackathon UI Incubate Pathway 2025, tim Molitav menghadapi tantangan dalam menyatukan berbagai jenis sensor kesehatan ke dalam satu sistem yang sederhana, efektif, dan ramah pengguna. Namun, berkat kolaborasi erat antaranggota tim yang berasal dari latar belakang klinis dan teknologi, tantangan tersebut berhasil diatasi. “Kami fokus pada antarmuka yang intuitif agar teknologi ini bisa digunakan oleh siapa pun, baik tenaga kesehatan maupun keluarga di rumah,” jelas Juan Karnadi, Founder & CEO Molitav.
Tak berhenti di situ, tim Molitav kini tengah mengembangkan fitur lanjutan seperti pemantauan glukosa darah dan tekanan darah. Mereka juga aktif menjajaki kemitraan strategis dengan berbagai klinik, rumah sakit, dan mitra industri alat kesehatan untuk memastikan bahwa teknologi ini bisa segera diterapkan secara nyata di lapangan. Program inkubasi lanjutan dan uji coba produk juga sedang dirancang untuk mempercepat peluncuran ke publik.
“Kami percaya bahwa akses terhadap pemantauan kesehatan yang aman, akurat, dan mudah digunakan adalah hak semua orang. Molitav adalah wujud kontribusi kami untuk menghadirkan alat kesehatan yang cerdas, inklusif, dan berdampak,” ujar Rifqi Alifa, Chief Medical Officer Molitav sekaligus mahasiswa Magister Keperawatan Onkologi FIK UI 2024.
Keberhasilan Molitav juga menjadi cerminan bagaimana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) terus mendorong peran perawat sebagai pelopor inovasi dalam sistem kesehatan. FIK UI tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi klinis, tetapi juga dengan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan solutif dalam menghadapi tantangan nyata di masyarakat.
Dengan mendukung mahasiswa dalam menghasilkan inovasi seperti Molitav, FIK UI mempertegas posisinya sebagai institusi keperawatan unggul dan berdampak (impactful) yang berkontribusi aktif dalam pengembangan teknologi kesehatan yang humanis dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Molitav menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas bidang — antara ilmu teknik dan keperawatan — mampu melahirkan solusi konkret yang relevan, terjangkau, dan mudah diakses. Sebuah langkah kecil dari kampus, namun membawa potensi perubahan besar bagi dunia kesehatan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga secara global.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Di tengah meningkatnya kebutuhan akan pemantauan kesehatan yang cepat, akurat, dan mudah digunakan, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) memperkenalkan Molitav — solusi pemantauan lima tanda vital secara real-time yang sepenuhnya non-invasif dan terjangkau.
Molitav, singkatan dari Monitoring Lima Tanda Vital, dirancang untuk mendeteksi potensi masalah kesehatan sejak dini melalui pengukuran detak jantung, saturasi oksigen (SpO₂), suhu tubuh, laju pernapasan, dan kadar kolesterol. Berbeda dengan alat konvensional, Molitav menggunakan teknologi totally non-invasive, yang artinya seluruh proses pemantauan dilakukan tanpa menusuk kulit atau menimbulkan rasa nyeri, sehingga aman dan nyaman, terutama untuk bayi dan pasien sensitif.
Keunggulan Molitav terletak pada kelengkapan parameter, portabilitas, kemudahan penggunaan, serta harga yang lebih terjangkau dibandingkan alat pemantauan konvensional yang umumnya besar dan mahal.
“Keunggulan Molitav terletak pada kombinasi fitur yang lengkap, mulai dari pengukuran detak jantung, saturasi oksigen, suhu tubuh, laju pernapasan, hingga kadar kolesterol. Selain itu, alat ini portabel, mudah digunakan, dan harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan perangkat monitoring konvensional yang cenderung mahal dan tidak praktis untuk penggunaan sehari-hari,” ujar Mutia Annisa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah FIK UI 2024 sekaligus Chief Product Officer (CPO) Molitav.
Molitav menggunakan sensor portabel melalui penempelan jari tangan dan mengirimkan data secara nirkabel ke platform pemantauan. Jika ditemukan kondisi tidak normal, ada parameter yang muncul pada aplikasi IoT berbasis Android melalui Bluetooth dan/atau WiFi. tenaga medis atau pengguna dapat memantau secara real-time pada dashboard. Data yang tersimpan secara digital juga memudahkan pelacakan kondisi pasien secara berkelanjutan.
Di balik Molitav berdiri tim multidisiplin yang menggabungkan keahlian di bidang teknologi dan praktik klinis. Tim ini terdiri dari Juan Karnadi, mahasiswa Magister Teknik Biomedis Fakultas Teknik UI 2024 yang berperan sebagai Founder & CEO; Rio A. Fajarin, alumnus Teknik Elektro Fakultas Teknik UI 2014 sebagai Co-Founder & COO; Mutia Annisa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah FIK UI 2024 sebagai Chief Product Officer (CPO); serta Rifqi Alifa, mahasiswa Magister Keperawatan Onkologi FIK UI 2024 sebagai Chief Medical Officer (CMO). Kolaborasi lintas disiplin ini menjadi fondasi kuat dalam merancang solusi kesehatan yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan klinis di lapangan.
Selama mengikuti Hackathon UI Incubate Pathway 2025, tim Molitav menghadapi tantangan dalam menyatukan berbagai jenis sensor kesehatan ke dalam satu sistem yang sederhana, efektif, dan ramah pengguna. Namun, berkat kolaborasi erat antaranggota tim yang berasal dari latar belakang klinis dan teknologi, tantangan tersebut berhasil diatasi. “Kami fokus pada antarmuka yang intuitif agar teknologi ini bisa digunakan oleh siapa pun, baik tenaga kesehatan maupun keluarga di rumah,” jelas Juan Karnadi, Founder & CEO Molitav.
Tak berhenti di situ, tim Molitav kini tengah mengembangkan fitur lanjutan seperti pemantauan glukosa darah dan tekanan darah. Mereka juga aktif menjajaki kemitraan strategis dengan berbagai klinik, rumah sakit, dan mitra industri alat kesehatan untuk memastikan bahwa teknologi ini bisa segera diterapkan secara nyata di lapangan. Program inkubasi lanjutan dan uji coba produk juga sedang dirancang untuk mempercepat peluncuran ke publik.
“Kami percaya bahwa akses terhadap pemantauan kesehatan yang aman, akurat, dan mudah digunakan adalah hak semua orang. Molitav adalah wujud kontribusi kami untuk menghadirkan alat kesehatan yang cerdas, inklusif, dan berdampak,” ujar Rifqi Alifa, Chief Medical Officer Molitav sekaligus mahasiswa Magister Keperawatan Onkologi FIK UI 2024.
Keberhasilan Molitav juga menjadi cerminan bagaimana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) terus mendorong peran perawat sebagai pelopor inovasi dalam sistem kesehatan. FIK UI tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi klinis, tetapi juga dengan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan solutif dalam menghadapi tantangan nyata di masyarakat.
Dengan mendukung mahasiswa dalam menghasilkan inovasi seperti Molitav, FIK UI mempertegas posisinya sebagai institusi keperawatan unggul dan berdampak (impactful) yang berkontribusi aktif dalam pengembangan teknologi kesehatan yang humanis dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Molitav menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas bidang — antara ilmu teknik dan keperawatan — mampu melahirkan solusi konkret yang relevan, terjangkau, dan mudah diakses. Sebuah langkah kecil dari kampus, namun membawa potensi perubahan besar bagi dunia kesehatan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga secara global.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) kembali menunjukkan kiprah unggul dan berdampaknya dalam menjawab tantangan nyata masyarakat melalui inovasi lintas bidang. Sebanyak empat startup karya mahasiswa FIK UI berhasil terpilih sebagai bagian dari 23 startup penerima pendanaan dalam Program Hackathon UI Incubate Pathway 2025, sebuah program inkubasi bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia. Program ini bertujuan mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi dan kewirausahaan dari sivitas akademika UI yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan riil di masyarakat.
Tahun ini, Hackathon UI Incubate 2025 diikuti oleh kurang lebih 500 dari mahasiswa, profesional, dan umum, dan hanya 23 tim startup muda terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat untuk menerima pendanaan dan pembinaan intensif. Keberhasilan empat tim yang beranggotakan mahasiswa FIK UI dalam menembus jajaran terbaik menjadi pencapaian membanggakan yang menunjukkan bahwa keperawatan bukan hanya profesi layanan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu melahirkan inovasi berdampak (impactful innovation) dalam dunia kesehatan dan sosial kemasyarakatan.
Keempat startup yang beranggotakan mahasiswa FIK UI berhasil meraih pendanaan dan terbagi ke dalam dua kategori. Pada kategori Problem Market Fit (PMF) dengan pendanaan sebesar Rp100.000.000 per startup, terdapat dua tim unggulan. Pertama, Key Energy, yang salah satu anggotanya adalah Mardiyanti, mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan angkatan 2024. Kedua, MOLITAV, sebuah kolaborasi lintas fakultas yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Dari FIK UI, dua mahasiswa turut berperan dalam tim ini, yaitu Mutia Anissa, mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024, dan Rifqi Alifa Bestari, mahasiswa Magister Keperawatan Peminatan Onkologi angkatan 2024.
Sementara itu, pada kategori Problem Solution Fit (PSF), dengan pendanaan sebesar Rp50.000.000 per startup, turut terpilih dua tim lainnya: ClowSens, dengan anggota tim yang terdiri dari Netral Gulo, Estefania Dos Santos, dan Sri Hariyati (ketiganya mahasiswa Magister Keperawatan Medikal Bedah angkatan 2024); serta PeriXa Batin, sebuah kolaborasi multidisiplin yang melibatkan Tissa Aulia Putri (Magister Onkologi 2023), Afifah Ayu Syaiful (Ners Spesialis Keperawatan Anak 2024), Hafizs Nasirun (Magister Keperawatan Komunitas 2024), dan Eka Putri Yulianti (Magister Keperawatan Jiwa 2024).
Inovasi-inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap berbagai isu sosial dan kesehatan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia—mulai dari layanan pasien kanker dan anak, beban psikologis keluarga pasien, inefisiensi sistem rumah sakit, hingga kebutuhan masyarakat terhadap teknologi perawatan yang mudah diakses. Mahasiswa FIK UI berhasil memposisikan diri tidak hanya sebagai tenaga kesehatan masa depan, tetapi juga sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menyumbangkan solusi berbasis riset, empati, dan teknologi.
Capaian ini memperkuat visi FIK UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan impactful, yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten secara klinis, tetapi juga inovatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menyikapi perkembangan zaman serta kompleksitas persoalan masyarakat. Melalui program UI Incubate Pathway 2025, keempat tim terpilih akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan pengembangan lebih lanjut hingga siap menembus ekosistem startup nasional dan global.
FIK UI mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas prestasi luar biasa ini. Teruslah berkarya dan berinovasi untuk menciptakan perubahan positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Permasalahan pemeriksaan kesehatan di Indonesia masih diwarnai oleh keterbatasan alat monitoring pasien yang invasif, tidak portabel, dan belum terhubung secara real-time. Kondisi ini memperlambat pelayanan medis, meningkatkan biaya, serta membuat akses terhadap alat kesehatan tidak merata—terutama di fasilitas kesehatan kelas C ke bawah. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hingga tahun 2022, hanya sekitar 16,4% fasilitas kesehatan di Indonesia yang memiliki alat monitoring pasien, sementara 94% alat kesehatan masih merupakan produk impor. Situasi ini menjadi dorongan utama lahirnya MOLITAV, inovasi alat pemantauan pasien yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan sistem kesehatan yang lebih cepat, efisien, dan mandiri.
MOLITAV hadir sebagai perangkat monitoring pasien berbasis IoT yang portabel, cepat, dan sepenuhnya non-invasif. Berbeda dengan alat konvensional, MOLITAV memungkinkan pengguna memantau kondisi tubuh hanya dengan meletakkan jari pada sensor, tanpa perlu pengambilan darah atau menembus permukaan kulit. Hasil pemeriksaan dapat diperoleh dalam waktu satu menit, dan data dikirim langsung ke dashboard tenaga medis secara real-time. Inovasi ini menjadikan pemeriksaan kesehatan jauh lebih praktis dan nyaman, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mandiri (self-monitoring dan self-decision making).
Gagasan pengembangan MOLITAV telah berjalan selama enam tahun, namun semangat kewirausahaan mulai tumbuh kuat pada awal tahun 2024. Sang inovator menyadari bahwa hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Tantangan nyata dunia kesehatan hanya bisa dijawab melalui praktik dan keberanian untuk membangun bisnis berbasis inovasi lokal. Dari sinilah, MOLITAV bertransformasi menjadi startup di bidang alat kesehatan (ALKES UMKM) yang berkomitmen menguatkan kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Tujuan utama MOLITAV adalah menghadirkan alat pemantauan pasien yang dapat digunakan secara luas, termasuk di daerah-daerah dengan keterbatasan fasilitas medis. Keberadaan alat ini diharapkan dapat mempercepat proses pemeriksaan, menekan biaya layanan, serta meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memantau kesehatannya sendiri. Lebih jauh, pengembangan MOLITAV juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi dengan membuka peluang bagi UMKM lokal untuk turut serta dalam produksi alat kesehatan dalam negeri. Dengan demikian, MOLITAV tidak hanya menjawab tantangan di bidang medis, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Sebagaimana disampaikan oleh Direktur Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia (DIRBT UI), Dr. Chairul Hudaya, Ph.D., “Inovasi seperti MOLITAV adalah bentuk nyata kontribusi sivitas akademika dalam memperkuat kemandirian bangsa di bidang kesehatan. Produk ini menunjukkan bahwa riset dapat berdampak langsung bagi masyarakat jika diiringi dengan semangat kewirausahaan dan keberlanjutan.”
Menutup pernyataannya, Juan Karnadi, selaku CEO MOLITAV, menyampaikan harapan kolaboratifnya, “Harapannya ya semua bisa bersinergi. Anda punya latar belakang teknik, medis, atau bahkan hanya semangat belajar — Anda bisa terlibat. Kita bisa kok menciptakan alat-alat kesehatan buatan anak bangsa dan memperbaiki mekanisme pemeriksaan kesehatan di Indonesia yang masih banyak manual di 80% fasilitas kesehatan kita sendiri. Mari kita jadikan teknologi ini sebagai alat perjuangan untuk kemandirian kesehatan Indonesia.”
Dengan prinsip cepat, portabel, dan non-invasif, MOLITAV menegaskan posisinya sebagai inovasi strategis yang tidak hanya membawa manfaat bagi sektor kesehatan, tetapi juga memperkuat ekosistem teknologi medis buatan Indonesia menuju masa depan yang lebih mandiri dan berdaya.
Permasalahan pemeriksaan kesehatan di Indonesia masih diwarnai oleh keterbatasan alat monitoring pasien yang invasif, tidak portabel, dan belum terhubung secara real-time. Kondisi ini memperlambat pelayanan medis, meningkatkan biaya, serta membuat akses terhadap alat kesehatan tidak merata—terutama di fasilitas kesehatan kelas C ke bawah. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hingga tahun 2022, hanya sekitar 16,4% fasilitas kesehatan di Indonesia yang memiliki alat monitoring pasien, sementara 94% alat kesehatan masih merupakan produk impor. Situasi ini menjadi dorongan utama lahirnya MOLITAV, inovasi alat pemantauan pasien yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan sistem kesehatan yang lebih cepat, efisien, dan mandiri.
MOLITAV hadir sebagai perangkat monitoring pasien berbasis IoT yang portabel, cepat, dan sepenuhnya non-invasif. Berbeda dengan alat konvensional, MOLITAV memungkinkan pengguna memantau kondisi tubuh hanya dengan meletakkan jari pada sensor, tanpa perlu pengambilan darah atau menembus permukaan kulit. Hasil pemeriksaan dapat diperoleh dalam waktu satu menit, dan data dikirim langsung ke dashboard tenaga medis secara real-time. Inovasi ini menjadikan pemeriksaan kesehatan jauh lebih praktis dan nyaman, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mandiri (self-monitoring dan self-decision making).
Gagasan pengembangan MOLITAV telah berjalan selama enam tahun, namun semangat kewirausahaan mulai tumbuh kuat pada awal tahun 2024. Sang inovator menyadari bahwa hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Tantangan nyata dunia kesehatan hanya bisa dijawab melalui praktik dan keberanian untuk membangun bisnis berbasis inovasi lokal. Dari sinilah, MOLITAV bertransformasi menjadi startup di bidang alat kesehatan (ALKES UMKM) yang berkomitmen menguatkan kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Tujuan utama MOLITAV adalah menghadirkan alat pemantauan pasien yang dapat digunakan secara luas, termasuk di daerah-daerah dengan keterbatasan fasilitas medis. Keberadaan alat ini diharapkan dapat mempercepat proses pemeriksaan, menekan biaya layanan, serta meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memantau kesehatannya sendiri. Lebih jauh, pengembangan MOLITAV juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi dengan membuka peluang bagi UMKM lokal untuk turut serta dalam produksi alat kesehatan dalam negeri. Dengan demikian, MOLITAV tidak hanya menjawab tantangan di bidang medis, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Sebagaimana disampaikan oleh Direktur Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia (DIRBT UI), Dr. Chairul Hudaya, Ph.D., “Inovasi seperti MOLITAV adalah bentuk nyata kontribusi sivitas akademika dalam memperkuat kemandirian bangsa di bidang kesehatan. Produk ini menunjukkan bahwa riset dapat berdampak langsung bagi masyarakat jika diiringi dengan semangat kewirausahaan dan keberlanjutan.”
Menutup pernyataannya, Juan Karnadi, selaku CEO MOLITAV, menyampaikan harapan kolaboratifnya, “Harapannya ya semua bisa bersinergi. Anda punya latar belakang teknik, medis, atau bahkan hanya semangat belajar — Anda bisa terlibat. Kita bisa kok menciptakan alat-alat kesehatan buatan anak bangsa dan memperbaiki mekanisme pemeriksaan kesehatan di Indonesia yang masih banyak manual di 80% fasilitas kesehatan kita sendiri. Mari kita jadikan teknologi ini sebagai alat perjuangan untuk kemandirian kesehatan Indonesia.”
Dengan prinsip cepat, portabel, dan non-invasif, MOLITAV menegaskan posisinya sebagai inovasi strategis yang tidak hanya membawa manfaat bagi sektor kesehatan, tetapi juga memperkuat ekosistem teknologi medis buatan Indonesia menuju masa depan yang lebih mandiri dan berdaya.
Permasalahan pemeriksaan kesehatan di Indonesia masih diwarnai oleh keterbatasan alat monitoring pasien yang invasif, tidak portabel, dan belum terhubung secara real-time. Kondisi ini memperlambat pelayanan medis, meningkatkan biaya, serta membuat akses terhadap alat kesehatan tidak merata—terutama di fasilitas kesehatan kelas C ke bawah. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hingga tahun 2022, hanya sekitar 16,4% fasilitas kesehatan di Indonesia yang memiliki alat monitoring pasien, sementara 94% alat kesehatan masih merupakan produk impor. Situasi ini menjadi dorongan utama lahirnya MOLITAV, inovasi alat pemantauan pasien yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan sistem kesehatan yang lebih cepat, efisien, dan mandiri.
MOLITAV hadir sebagai perangkat monitoring pasien berbasis IoT yang portabel, cepat, dan sepenuhnya non-invasif. Berbeda dengan alat konvensional, MOLITAV memungkinkan pengguna memantau kondisi tubuh hanya dengan meletakkan jari pada sensor, tanpa perlu pengambilan darah atau menembus permukaan kulit. Hasil pemeriksaan dapat diperoleh dalam waktu satu menit, dan data dikirim langsung ke dashboard tenaga medis secara real-time. Inovasi ini menjadikan pemeriksaan kesehatan jauh lebih praktis dan nyaman, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mandiri (self-monitoring dan self-decision making).
Gagasan pengembangan MOLITAV telah berjalan selama enam tahun, namun semangat kewirausahaan mulai tumbuh kuat pada awal tahun 2024. Sang inovator menyadari bahwa hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Tantangan nyata dunia kesehatan hanya bisa dijawab melalui praktik dan keberanian untuk membangun bisnis berbasis inovasi lokal. Dari sinilah, MOLITAV bertransformasi menjadi startup di bidang alat kesehatan (ALKES UMKM) yang berkomitmen menguatkan kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Tujuan utama MOLITAV adalah menghadirkan alat pemantauan pasien yang dapat digunakan secara luas, termasuk di daerah-daerah dengan keterbatasan fasilitas medis. Keberadaan alat ini diharapkan dapat mempercepat proses pemeriksaan, menekan biaya layanan, serta meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memantau kesehatannya sendiri. Lebih jauh, pengembangan MOLITAV juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi dengan membuka peluang bagi UMKM lokal untuk turut serta dalam produksi alat kesehatan dalam negeri. Dengan demikian, MOLITAV tidak hanya menjawab tantangan di bidang medis, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Sebagaimana disampaikan oleh Direktur Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia (DIRBT UI), Dr. Chairul Hudaya, Ph.D., “Inovasi seperti MOLITAV adalah bentuk nyata kontribusi sivitas akademika dalam memperkuat kemandirian bangsa di bidang kesehatan. Produk ini menunjukkan bahwa riset dapat berdampak langsung bagi masyarakat jika diiringi dengan semangat kewirausahaan dan keberlanjutan.”
Menutup pernyataannya, Juan Karnadi, selaku CEO MOLITAV, menyampaikan harapan kolaboratifnya, “Harapannya ya semua bisa bersinergi. Anda punya latar belakang teknik, medis, atau bahkan hanya semangat belajar — Anda bisa terlibat. Kita bisa kok menciptakan alat-alat kesehatan buatan anak bangsa dan memperbaiki mekanisme pemeriksaan kesehatan di Indonesia yang masih banyak manual di 80% fasilitas kesehatan kita sendiri. Mari kita jadikan teknologi ini sebagai alat perjuangan untuk kemandirian kesehatan Indonesia.”
Dengan prinsip cepat, portabel, dan non-invasif, MOLITAV menegaskan posisinya sebagai inovasi strategis yang tidak hanya membawa manfaat bagi sektor kesehatan, tetapi juga memperkuat ekosistem teknologi medis buatan Indonesia menuju masa depan yang lebih mandiri dan berdaya.
Permasalahan pemeriksaan kesehatan di Indonesia masih diwarnai oleh keterbatasan alat monitoring pasien yang invasif, tidak portabel, dan belum terhubung secara real-time. Kondisi ini memperlambat pelayanan medis, meningkatkan biaya, serta membuat akses terhadap alat kesehatan tidak merata—terutama di fasilitas kesehatan kelas C ke bawah. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hingga tahun 2022, hanya sekitar 16,4% fasilitas kesehatan di Indonesia yang memiliki alat monitoring pasien, sementara 94% alat kesehatan masih merupakan produk impor. Situasi ini menjadi dorongan utama lahirnya MOLITAV, inovasi alat pemantauan pasien yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan sistem kesehatan yang lebih cepat, efisien, dan mandiri.
MOLITAV hadir sebagai perangkat monitoring pasien berbasis IoT yang portabel, cepat, dan sepenuhnya non-invasif. Berbeda dengan alat konvensional, MOLITAV memungkinkan pengguna memantau kondisi tubuh hanya dengan meletakkan jari pada sensor, tanpa perlu pengambilan darah atau menembus permukaan kulit. Hasil pemeriksaan dapat diperoleh dalam waktu satu menit, dan data dikirim langsung ke dashboard tenaga medis secara real-time. Inovasi ini menjadikan pemeriksaan kesehatan jauh lebih praktis dan nyaman, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mandiri (self-monitoring dan self-decision making).
Gagasan pengembangan MOLITAV telah berjalan selama enam tahun, namun semangat kewirausahaan mulai tumbuh kuat pada awal tahun 2024. Sang inovator menyadari bahwa hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Tantangan nyata dunia kesehatan hanya bisa dijawab melalui praktik dan keberanian untuk membangun bisnis berbasis inovasi lokal. Dari sinilah, MOLITAV bertransformasi menjadi startup di bidang alat kesehatan (ALKES UMKM) yang berkomitmen menguatkan kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Tujuan utama MOLITAV adalah menghadirkan alat pemantauan pasien yang dapat digunakan secara luas, termasuk di daerah-daerah dengan keterbatasan fasilitas medis. Keberadaan alat ini diharapkan dapat mempercepat proses pemeriksaan, menekan biaya layanan, serta meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memantau kesehatannya sendiri. Lebih jauh, pengembangan MOLITAV juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi dengan membuka peluang bagi UMKM lokal untuk turut serta dalam produksi alat kesehatan dalam negeri. Dengan demikian, MOLITAV tidak hanya menjawab tantangan di bidang medis, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Sebagaimana disampaikan oleh Direktur Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia (DIRBT UI), Dr. Chairul Hudaya, Ph.D., “Inovasi seperti MOLITAV adalah bentuk nyata kontribusi sivitas akademika dalam memperkuat kemandirian bangsa di bidang kesehatan. Produk ini menunjukkan bahwa riset dapat berdampak langsung bagi masyarakat jika diiringi dengan semangat kewirausahaan dan keberlanjutan.”
Menutup pernyataannya, Juan Karnadi, selaku CEO MOLITAV, menyampaikan harapan kolaboratifnya, “Harapannya ya semua bisa bersinergi. Anda punya latar belakang teknik, medis, atau bahkan hanya semangat belajar — Anda bisa terlibat. Kita bisa kok menciptakan alat-alat kesehatan buatan anak bangsa dan memperbaiki mekanisme pemeriksaan kesehatan di Indonesia yang masih banyak manual di 80% fasilitas kesehatan kita sendiri. Mari kita jadikan teknologi ini sebagai alat perjuangan untuk kemandirian kesehatan Indonesia.”
Dengan prinsip cepat, portabel, dan non-invasif, MOLITAV menegaskan posisinya sebagai inovasi strategis yang tidak hanya membawa manfaat bagi sektor kesehatan, tetapi juga memperkuat ekosistem teknologi medis buatan Indonesia menuju masa depan yang lebih mandiri dan berdaya.
Permasalahan pemeriksaan kesehatan di Indonesia masih diwarnai oleh keterbatasan alat monitoring pasien yang invasif, tidak portabel, dan belum terhubung secara real-time. Kondisi ini memperlambat pelayanan medis, meningkatkan biaya, serta membuat akses terhadap alat kesehatan tidak merata—terutama di fasilitas kesehatan kelas C ke bawah. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hingga tahun 2022, hanya sekitar 16,4% fasilitas kesehatan di Indonesia yang memiliki alat monitoring pasien, sementara 94% alat kesehatan masih merupakan produk impor. Situasi ini menjadi dorongan utama lahirnya MOLITAV, inovasi alat pemantauan pasien yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan sistem kesehatan yang lebih cepat, efisien, dan mandiri.
MOLITAV hadir sebagai perangkat monitoring pasien berbasis IoT yang portabel, cepat, dan sepenuhnya non-invasif. Berbeda dengan alat konvensional, MOLITAV memungkinkan pengguna memantau kondisi tubuh hanya dengan meletakkan jari pada sensor, tanpa perlu pengambilan darah atau menembus permukaan kulit. Hasil pemeriksaan dapat diperoleh dalam waktu satu menit, dan data dikirim langsung ke dashboard tenaga medis secara real-time. Inovasi ini menjadikan pemeriksaan kesehatan jauh lebih praktis dan nyaman, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mandiri (self-monitoring dan self-decision making).
Gagasan pengembangan MOLITAV telah berjalan selama enam tahun, namun semangat kewirausahaan mulai tumbuh kuat pada awal tahun 2024. Sang inovator menyadari bahwa hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Tantangan nyata dunia kesehatan hanya bisa dijawab melalui praktik dan keberanian untuk membangun bisnis berbasis inovasi lokal. Dari sinilah, MOLITAV bertransformasi menjadi startup di bidang alat kesehatan (ALKES UMKM) yang berkomitmen menguatkan kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Tujuan utama MOLITAV adalah menghadirkan alat pemantauan pasien yang dapat digunakan secara luas, termasuk di daerah-daerah dengan keterbatasan fasilitas medis. Keberadaan alat ini diharapkan dapat mempercepat proses pemeriksaan, menekan biaya layanan, serta meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memantau kesehatannya sendiri. Lebih jauh, pengembangan MOLITAV juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi dengan membuka peluang bagi UMKM lokal untuk turut serta dalam produksi alat kesehatan dalam negeri. Dengan demikian, MOLITAV tidak hanya menjawab tantangan di bidang medis, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Sebagaimana disampaikan oleh Direktur Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia (DIRBT UI), Dr. Chairul Hudaya, Ph.D., “Inovasi seperti MOLITAV adalah bentuk nyata kontribusi sivitas akademika dalam memperkuat kemandirian bangsa di bidang kesehatan. Produk ini menunjukkan bahwa riset dapat berdampak langsung bagi masyarakat jika diiringi dengan semangat kewirausahaan dan keberlanjutan.”
Menutup pernyataannya, Juan Karnadi, selaku CEO MOLITAV, menyampaikan harapan kolaboratifnya, “Harapannya ya semua bisa bersinergi. Anda punya latar belakang teknik, medis, atau bahkan hanya semangat belajar — Anda bisa terlibat. Kita bisa kok menciptakan alat-alat kesehatan buatan anak bangsa dan memperbaiki mekanisme pemeriksaan kesehatan di Indonesia yang masih banyak manual di 80% fasilitas kesehatan kita sendiri. Mari kita jadikan teknologi ini sebagai alat perjuangan untuk kemandirian kesehatan Indonesia.”
Dengan prinsip cepat, portabel, dan non-invasif, MOLITAV menegaskan posisinya sebagai inovasi strategis yang tidak hanya membawa manfaat bagi sektor kesehatan, tetapi juga memperkuat ekosistem teknologi medis buatan Indonesia menuju masa depan yang lebih mandiri dan berdaya.
Permasalahan pemeriksaan kesehatan di Indonesia masih diwarnai oleh keterbatasan alat monitoring pasien yang invasif, tidak portabel, dan belum terhubung secara real-time. Kondisi ini memperlambat pelayanan medis, meningkatkan biaya, serta membuat akses terhadap alat kesehatan tidak merata—terutama di fasilitas kesehatan kelas C ke bawah. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hingga tahun 2022, hanya sekitar 16,4% fasilitas kesehatan di Indonesia yang memiliki alat monitoring pasien, sementara 94% alat kesehatan masih merupakan produk impor. Situasi ini menjadi dorongan utama lahirnya MOLITAV, inovasi alat pemantauan pasien yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan sistem kesehatan yang lebih cepat, efisien, dan mandiri.
MOLITAV hadir sebagai perangkat monitoring pasien berbasis IoT yang portabel, cepat, dan sepenuhnya non-invasif. Berbeda dengan alat konvensional, MOLITAV memungkinkan pengguna memantau kondisi tubuh hanya dengan meletakkan jari pada sensor, tanpa perlu pengambilan darah atau menembus permukaan kulit. Hasil pemeriksaan dapat diperoleh dalam waktu satu menit, dan data dikirim langsung ke dashboard tenaga medis secara real-time. Inovasi ini menjadikan pemeriksaan kesehatan jauh lebih praktis dan nyaman, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mandiri (self-monitoring dan self-decision making).
Gagasan pengembangan MOLITAV telah berjalan selama enam tahun, namun semangat kewirausahaan mulai tumbuh kuat pada awal tahun 2024. Sang inovator menyadari bahwa hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Tantangan nyata dunia kesehatan hanya bisa dijawab melalui praktik dan keberanian untuk membangun bisnis berbasis inovasi lokal. Dari sinilah, MOLITAV bertransformasi menjadi startup di bidang alat kesehatan (ALKES UMKM) yang berkomitmen menguatkan kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Tujuan utama MOLITAV adalah menghadirkan alat pemantauan pasien yang dapat digunakan secara luas, termasuk di daerah-daerah dengan keterbatasan fasilitas medis. Keberadaan alat ini diharapkan dapat mempercepat proses pemeriksaan, menekan biaya layanan, serta meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memantau kesehatannya sendiri. Lebih jauh, pengembangan MOLITAV juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi dengan membuka peluang bagi UMKM lokal untuk turut serta dalam produksi alat kesehatan dalam negeri. Dengan demikian, MOLITAV tidak hanya menjawab tantangan di bidang medis, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Sebagaimana disampaikan oleh Direktur Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia (DIRBT UI), Dr. Chairul Hudaya, Ph.D., “Inovasi seperti MOLITAV adalah bentuk nyata kontribusi sivitas akademika dalam memperkuat kemandirian bangsa di bidang kesehatan. Produk ini menunjukkan bahwa riset dapat berdampak langsung bagi masyarakat jika diiringi dengan semangat kewirausahaan dan keberlanjutan.”
Menutup pernyataannya, Juan Karnadi, selaku CEO MOLITAV, menyampaikan harapan kolaboratifnya, “Harapannya ya semua bisa bersinergi. Anda punya latar belakang teknik, medis, atau bahkan hanya semangat belajar — Anda bisa terlibat. Kita bisa kok menciptakan alat-alat kesehatan buatan anak bangsa dan memperbaiki mekanisme pemeriksaan kesehatan di Indonesia yang masih banyak manual di 80% fasilitas kesehatan kita sendiri. Mari kita jadikan teknologi ini sebagai alat perjuangan untuk kemandirian kesehatan Indonesia.”
Dengan prinsip cepat, portabel, dan non-invasif, MOLITAV menegaskan posisinya sebagai inovasi strategis yang tidak hanya membawa manfaat bagi sektor kesehatan, tetapi juga memperkuat ekosistem teknologi medis buatan Indonesia menuju masa depan yang lebih mandiri dan berdaya.
Permasalahan pemeriksaan kesehatan di Indonesia masih diwarnai oleh keterbatasan alat monitoring pasien yang invasif, tidak portabel, dan belum terhubung secara real-time. Kondisi ini memperlambat pelayanan medis, meningkatkan biaya, serta membuat akses terhadap alat kesehatan tidak merata—terutama di fasilitas kesehatan kelas C ke bawah. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hingga tahun 2022, hanya sekitar 16,4% fasilitas kesehatan di Indonesia yang memiliki alat monitoring pasien, sementara 94% alat kesehatan masih merupakan produk impor. Situasi ini menjadi dorongan utama lahirnya MOLITAV, inovasi alat pemantauan pasien yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan sistem kesehatan yang lebih cepat, efisien, dan mandiri.
MOLITAV hadir sebagai perangkat monitoring pasien berbasis IoT yang portabel, cepat, dan sepenuhnya non-invasif. Berbeda dengan alat konvensional, MOLITAV memungkinkan pengguna memantau kondisi tubuh hanya dengan meletakkan jari pada sensor, tanpa perlu pengambilan darah atau menembus permukaan kulit. Hasil pemeriksaan dapat diperoleh dalam waktu satu menit, dan data dikirim langsung ke dashboard tenaga medis secara real-time. Inovasi ini menjadikan pemeriksaan kesehatan jauh lebih praktis dan nyaman, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mandiri (self-monitoring dan self-decision making).
Gagasan pengembangan MOLITAV telah berjalan selama enam tahun, namun semangat kewirausahaan mulai tumbuh kuat pada awal tahun 2024. Sang inovator menyadari bahwa hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Tantangan nyata dunia kesehatan hanya bisa dijawab melalui praktik dan keberanian untuk membangun bisnis berbasis inovasi lokal. Dari sinilah, MOLITAV bertransformasi menjadi startup di bidang alat kesehatan (ALKES UMKM) yang berkomitmen menguatkan kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Tujuan utama MOLITAV adalah menghadirkan alat pemantauan pasien yang dapat digunakan secara luas, termasuk di daerah-daerah dengan keterbatasan fasilitas medis. Keberadaan alat ini diharapkan dapat mempercepat proses pemeriksaan, menekan biaya layanan, serta meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memantau kesehatannya sendiri. Lebih jauh, pengembangan MOLITAV juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi dengan membuka peluang bagi UMKM lokal untuk turut serta dalam produksi alat kesehatan dalam negeri. Dengan demikian, MOLITAV tidak hanya menjawab tantangan di bidang medis, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Sebagaimana disampaikan oleh Direktur Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia (DIRBT UI), Dr. Chairul Hudaya, Ph.D., “Inovasi seperti MOLITAV adalah bentuk nyata kontribusi sivitas akademika dalam memperkuat kemandirian bangsa di bidang kesehatan. Produk ini menunjukkan bahwa riset dapat berdampak langsung bagi masyarakat jika diiringi dengan semangat kewirausahaan dan keberlanjutan.”
Menutup pernyataannya, Juan Karnadi, selaku CEO MOLITAV, menyampaikan harapan kolaboratifnya, “Harapannya ya semua bisa bersinergi. Anda punya latar belakang teknik, medis, atau bahkan hanya semangat belajar — Anda bisa terlibat. Kita bisa kok menciptakan alat-alat kesehatan buatan anak bangsa dan memperbaiki mekanisme pemeriksaan kesehatan di Indonesia yang masih banyak manual di 80% fasilitas kesehatan kita sendiri. Mari kita jadikan teknologi ini sebagai alat perjuangan untuk kemandirian kesehatan Indonesia.”
Dengan prinsip cepat, portabel, dan non-invasif, MOLITAV menegaskan posisinya sebagai inovasi strategis yang tidak hanya membawa manfaat bagi sektor kesehatan, tetapi juga memperkuat ekosistem teknologi medis buatan Indonesia menuju masa depan yang lebih mandiri dan berdaya.
Permasalahan pemeriksaan kesehatan di Indonesia masih diwarnai oleh keterbatasan alat monitoring pasien yang invasif, tidak portabel, dan belum terhubung secara real-time. Kondisi ini memperlambat pelayanan medis, meningkatkan biaya, serta membuat akses terhadap alat kesehatan tidak merata—terutama di fasilitas kesehatan kelas C ke bawah. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hingga tahun 2022, hanya sekitar 16,4% fasilitas kesehatan di Indonesia yang memiliki alat monitoring pasien, sementara 94% alat kesehatan masih merupakan produk impor. Situasi ini menjadi dorongan utama lahirnya MOLITAV, inovasi alat pemantauan pasien yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan sistem kesehatan yang lebih cepat, efisien, dan mandiri.
MOLITAV hadir sebagai perangkat monitoring pasien berbasis IoT yang portabel, cepat, dan sepenuhnya non-invasif. Berbeda dengan alat konvensional, MOLITAV memungkinkan pengguna memantau kondisi tubuh hanya dengan meletakkan jari pada sensor, tanpa perlu pengambilan darah atau menembus permukaan kulit. Hasil pemeriksaan dapat diperoleh dalam waktu satu menit, dan data dikirim langsung ke dashboard tenaga medis secara real-time. Inovasi ini menjadikan pemeriksaan kesehatan jauh lebih praktis dan nyaman, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mandiri (self-monitoring dan self-decision making).
Gagasan pengembangan MOLITAV telah berjalan selama enam tahun, namun semangat kewirausahaan mulai tumbuh kuat pada awal tahun 2024. Sang inovator menyadari bahwa hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Tantangan nyata dunia kesehatan hanya bisa dijawab melalui praktik dan keberanian untuk membangun bisnis berbasis inovasi lokal. Dari sinilah, MOLITAV bertransformasi menjadi startup di bidang alat kesehatan (ALKES UMKM) yang berkomitmen menguatkan kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Tujuan utama MOLITAV adalah menghadirkan alat pemantauan pasien yang dapat digunakan secara luas, termasuk di daerah-daerah dengan keterbatasan fasilitas medis. Keberadaan alat ini diharapkan dapat mempercepat proses pemeriksaan, menekan biaya layanan, serta meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memantau kesehatannya sendiri. Lebih jauh, pengembangan MOLITAV juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi dengan membuka peluang bagi UMKM lokal untuk turut serta dalam produksi alat kesehatan dalam negeri. Dengan demikian, MOLITAV tidak hanya menjawab tantangan di bidang medis, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Sebagaimana disampaikan oleh Direktur Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia (DIRBT UI), Dr. Chairul Hudaya, Ph.D., “Inovasi seperti MOLITAV adalah bentuk nyata kontribusi sivitas akademika dalam memperkuat kemandirian bangsa di bidang kesehatan. Produk ini menunjukkan bahwa riset dapat berdampak langsung bagi masyarakat jika diiringi dengan semangat kewirausahaan dan keberlanjutan.”
Menutup pernyataannya, Juan Karnadi, selaku CEO MOLITAV, menyampaikan harapan kolaboratifnya, “Harapannya ya semua bisa bersinergi. Anda punya latar belakang teknik, medis, atau bahkan hanya semangat belajar — Anda bisa terlibat. Kita bisa kok menciptakan alat-alat kesehatan buatan anak bangsa dan memperbaiki mekanisme pemeriksaan kesehatan di Indonesia yang masih banyak manual di 80% fasilitas kesehatan kita sendiri. Mari kita jadikan teknologi ini sebagai alat perjuangan untuk kemandirian kesehatan Indonesia.”
Dengan prinsip cepat, portabel, dan non-invasif, MOLITAV menegaskan posisinya sebagai inovasi strategis yang tidak hanya membawa manfaat bagi sektor kesehatan, tetapi juga memperkuat ekosistem teknologi medis buatan Indonesia menuju masa depan yang lebih mandiri dan berdaya.
Permasalahan pemeriksaan kesehatan di Indonesia masih diwarnai oleh keterbatasan alat monitoring pasien yang invasif, tidak portabel, dan belum terhubung secara real-time. Kondisi ini memperlambat pelayanan medis, meningkatkan biaya, serta membuat akses terhadap alat kesehatan tidak merata—terutama di fasilitas kesehatan kelas C ke bawah. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hingga tahun 2022, hanya sekitar 16,4% fasilitas kesehatan di Indonesia yang memiliki alat monitoring pasien, sementara 94% alat kesehatan masih merupakan produk impor. Situasi ini menjadi dorongan utama lahirnya MOLITAV, inovasi alat pemantauan pasien yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan sistem kesehatan yang lebih cepat, efisien, dan mandiri.
MOLITAV hadir sebagai perangkat monitoring pasien berbasis IoT yang portabel, cepat, dan sepenuhnya non-invasif. Berbeda dengan alat konvensional, MOLITAV memungkinkan pengguna memantau kondisi tubuh hanya dengan meletakkan jari pada sensor, tanpa perlu pengambilan darah atau menembus permukaan kulit. Hasil pemeriksaan dapat diperoleh dalam waktu satu menit, dan data dikirim langsung ke dashboard tenaga medis secara real-time. Inovasi ini menjadikan pemeriksaan kesehatan jauh lebih praktis dan nyaman, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mandiri (self-monitoring dan self-decision making).
Gagasan pengembangan MOLITAV telah berjalan selama enam tahun, namun semangat kewirausahaan mulai tumbuh kuat pada awal tahun 2024. Sang inovator menyadari bahwa hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Tantangan nyata dunia kesehatan hanya bisa dijawab melalui praktik dan keberanian untuk membangun bisnis berbasis inovasi lokal. Dari sinilah, MOLITAV bertransformasi menjadi startup di bidang alat kesehatan (ALKES UMKM) yang berkomitmen menguatkan kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Tujuan utama MOLITAV adalah menghadirkan alat pemantauan pasien yang dapat digunakan secara luas, termasuk di daerah-daerah dengan keterbatasan fasilitas medis. Keberadaan alat ini diharapkan dapat mempercepat proses pemeriksaan, menekan biaya layanan, serta meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memantau kesehatannya sendiri. Lebih jauh, pengembangan MOLITAV juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi dengan membuka peluang bagi UMKM lokal untuk turut serta dalam produksi alat kesehatan dalam negeri. Dengan demikian, MOLITAV tidak hanya menjawab tantangan di bidang medis, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Sebagaimana disampaikan oleh Direktur Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia (DIRBT UI), Dr. Chairul Hudaya, Ph.D., “Inovasi seperti MOLITAV adalah bentuk nyata kontribusi sivitas akademika dalam memperkuat kemandirian bangsa di bidang kesehatan. Produk ini menunjukkan bahwa riset dapat berdampak langsung bagi masyarakat jika diiringi dengan semangat kewirausahaan dan keberlanjutan.”
Menutup pernyataannya, Juan Karnadi, selaku CEO MOLITAV, menyampaikan harapan kolaboratifnya, “Harapannya ya semua bisa bersinergi. Anda punya latar belakang teknik, medis, atau bahkan hanya semangat belajar — Anda bisa terlibat. Kita bisa kok menciptakan alat-alat kesehatan buatan anak bangsa dan memperbaiki mekanisme pemeriksaan kesehatan di Indonesia yang masih banyak manual di 80% fasilitas kesehatan kita sendiri. Mari kita jadikan teknologi ini sebagai alat perjuangan untuk kemandirian kesehatan Indonesia.”
Dengan prinsip cepat, portabel, dan non-invasif, MOLITAV menegaskan posisinya sebagai inovasi strategis yang tidak hanya membawa manfaat bagi sektor kesehatan, tetapi juga memperkuat ekosistem teknologi medis buatan Indonesia menuju masa depan yang lebih mandiri dan berdaya.
Permasalahan pemeriksaan kesehatan di Indonesia masih diwarnai oleh keterbatasan alat monitoring pasien yang invasif, tidak portabel, dan belum terhubung secara real-time. Kondisi ini memperlambat pelayanan medis, meningkatkan biaya, serta membuat akses terhadap alat kesehatan tidak merata—terutama di fasilitas kesehatan kelas C ke bawah. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hingga tahun 2022, hanya sekitar 16,4% fasilitas kesehatan di Indonesia yang memiliki alat monitoring pasien, sementara 94% alat kesehatan masih merupakan produk impor. Situasi ini menjadi dorongan utama lahirnya MOLITAV, inovasi alat pemantauan pasien yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan sistem kesehatan yang lebih cepat, efisien, dan mandiri.
MOLITAV hadir sebagai perangkat monitoring pasien berbasis IoT yang portabel, cepat, dan sepenuhnya non-invasif. Berbeda dengan alat konvensional, MOLITAV memungkinkan pengguna memantau kondisi tubuh hanya dengan meletakkan jari pada sensor, tanpa perlu pengambilan darah atau menembus permukaan kulit. Hasil pemeriksaan dapat diperoleh dalam waktu satu menit, dan data dikirim langsung ke dashboard tenaga medis secara real-time. Inovasi ini menjadikan pemeriksaan kesehatan jauh lebih praktis dan nyaman, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mandiri (self-monitoring dan self-decision making).
Gagasan pengembangan MOLITAV telah berjalan selama enam tahun, namun semangat kewirausahaan mulai tumbuh kuat pada awal tahun 2024. Sang inovator menyadari bahwa hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Tantangan nyata dunia kesehatan hanya bisa dijawab melalui praktik dan keberanian untuk membangun bisnis berbasis inovasi lokal. Dari sinilah, MOLITAV bertransformasi menjadi startup di bidang alat kesehatan (ALKES UMKM) yang berkomitmen menguatkan kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Tujuan utama MOLITAV adalah menghadirkan alat pemantauan pasien yang dapat digunakan secara luas, termasuk di daerah-daerah dengan keterbatasan fasilitas medis. Keberadaan alat ini diharapkan dapat mempercepat proses pemeriksaan, menekan biaya layanan, serta meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memantau kesehatannya sendiri. Lebih jauh, pengembangan MOLITAV juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi dengan membuka peluang bagi UMKM lokal untuk turut serta dalam produksi alat kesehatan dalam negeri. Dengan demikian, MOLITAV tidak hanya menjawab tantangan di bidang medis, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Sebagaimana disampaikan oleh Direktur Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia (DIRBT UI), Dr. Chairul Hudaya, Ph.D., “Inovasi seperti MOLITAV adalah bentuk nyata kontribusi sivitas akademika dalam memperkuat kemandirian bangsa di bidang kesehatan. Produk ini menunjukkan bahwa riset dapat berdampak langsung bagi masyarakat jika diiringi dengan semangat kewirausahaan dan keberlanjutan.”
Menutup pernyataannya, Juan Karnadi, selaku CEO MOLITAV, menyampaikan harapan kolaboratifnya, “Harapannya ya semua bisa bersinergi. Anda punya latar belakang teknik, medis, atau bahkan hanya semangat belajar — Anda bisa terlibat. Kita bisa kok menciptakan alat-alat kesehatan buatan anak bangsa dan memperbaiki mekanisme pemeriksaan kesehatan di Indonesia yang masih banyak manual di 80% fasilitas kesehatan kita sendiri. Mari kita jadikan teknologi ini sebagai alat perjuangan untuk kemandirian kesehatan Indonesia.”
Dengan prinsip cepat, portabel, dan non-invasif, MOLITAV menegaskan posisinya sebagai inovasi strategis yang tidak hanya membawa manfaat bagi sektor kesehatan, tetapi juga memperkuat ekosistem teknologi medis buatan Indonesia menuju masa depan yang lebih mandiri dan berdaya.
Permasalahan pemeriksaan kesehatan di Indonesia masih diwarnai oleh keterbatasan alat monitoring pasien yang invasif, tidak portabel, dan belum terhubung secara real-time. Kondisi ini memperlambat pelayanan medis, meningkatkan biaya, serta membuat akses terhadap alat kesehatan tidak merata—terutama di fasilitas kesehatan kelas C ke bawah. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hingga tahun 2022, hanya sekitar 16,4% fasilitas kesehatan di Indonesia yang memiliki alat monitoring pasien, sementara 94% alat kesehatan masih merupakan produk impor. Situasi ini menjadi dorongan utama lahirnya MOLITAV, inovasi alat pemantauan pasien yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan sistem kesehatan yang lebih cepat, efisien, dan mandiri.
MOLITAV hadir sebagai perangkat monitoring pasien berbasis IoT yang portabel, cepat, dan sepenuhnya non-invasif. Berbeda dengan alat konvensional, MOLITAV memungkinkan pengguna memantau kondisi tubuh hanya dengan meletakkan jari pada sensor, tanpa perlu pengambilan darah atau menembus permukaan kulit. Hasil pemeriksaan dapat diperoleh dalam waktu satu menit, dan data dikirim langsung ke dashboard tenaga medis secara real-time. Inovasi ini menjadikan pemeriksaan kesehatan jauh lebih praktis dan nyaman, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mandiri (self-monitoring dan self-decision making).
Gagasan pengembangan MOLITAV telah berjalan selama enam tahun, namun semangat kewirausahaan mulai tumbuh kuat pada awal tahun 2024. Sang inovator menyadari bahwa hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Tantangan nyata dunia kesehatan hanya bisa dijawab melalui praktik dan keberanian untuk membangun bisnis berbasis inovasi lokal. Dari sinilah, MOLITAV bertransformasi menjadi startup di bidang alat kesehatan (ALKES UMKM) yang berkomitmen menguatkan kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Tujuan utama MOLITAV adalah menghadirkan alat pemantauan pasien yang dapat digunakan secara luas, termasuk di daerah-daerah dengan keterbatasan fasilitas medis. Keberadaan alat ini diharapkan dapat mempercepat proses pemeriksaan, menekan biaya layanan, serta meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memantau kesehatannya sendiri. Lebih jauh, pengembangan MOLITAV juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi dengan membuka peluang bagi UMKM lokal untuk turut serta dalam produksi alat kesehatan dalam negeri. Dengan demikian, MOLITAV tidak hanya menjawab tantangan di bidang medis, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Sebagaimana disampaikan oleh Direktur Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia (DIRBT UI), Dr. Chairul Hudaya, Ph.D., “Inovasi seperti MOLITAV adalah bentuk nyata kontribusi sivitas akademika dalam memperkuat kemandirian bangsa di bidang kesehatan. Produk ini menunjukkan bahwa riset dapat berdampak langsung bagi masyarakat jika diiringi dengan semangat kewirausahaan dan keberlanjutan.”
Menutup pernyataannya, Juan Karnadi, selaku CEO MOLITAV, menyampaikan harapan kolaboratifnya, “Harapannya ya semua bisa bersinergi. Anda punya latar belakang teknik, medis, atau bahkan hanya semangat belajar — Anda bisa terlibat. Kita bisa kok menciptakan alat-alat kesehatan buatan anak bangsa dan memperbaiki mekanisme pemeriksaan kesehatan di Indonesia yang masih banyak manual di 80% fasilitas kesehatan kita sendiri. Mari kita jadikan teknologi ini sebagai alat perjuangan untuk kemandirian kesehatan Indonesia.”
Dengan prinsip cepat, portabel, dan non-invasif, MOLITAV menegaskan posisinya sebagai inovasi strategis yang tidak hanya membawa manfaat bagi sektor kesehatan, tetapi juga memperkuat ekosistem teknologi medis buatan Indonesia menuju masa depan yang lebih mandiri dan berdaya.
Permasalahan pemeriksaan kesehatan di Indonesia masih diwarnai oleh keterbatasan alat monitoring pasien yang invasif, tidak portabel, dan belum terhubung secara real-time. Kondisi ini memperlambat pelayanan medis, meningkatkan biaya, serta membuat akses terhadap alat kesehatan tidak merata—terutama di fasilitas kesehatan kelas C ke bawah. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hingga tahun 2022, hanya sekitar 16,4% fasilitas kesehatan di Indonesia yang memiliki alat monitoring pasien, sementara 94% alat kesehatan masih merupakan produk impor. Situasi ini menjadi dorongan utama lahirnya MOLITAV, inovasi alat pemantauan pasien yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan sistem kesehatan yang lebih cepat, efisien, dan mandiri.
MOLITAV hadir sebagai perangkat monitoring pasien berbasis IoT yang portabel, cepat, dan sepenuhnya non-invasif. Berbeda dengan alat konvensional, MOLITAV memungkinkan pengguna memantau kondisi tubuh hanya dengan meletakkan jari pada sensor, tanpa perlu pengambilan darah atau menembus permukaan kulit. Hasil pemeriksaan dapat diperoleh dalam waktu satu menit, dan data dikirim langsung ke dashboard tenaga medis secara real-time. Inovasi ini menjadikan pemeriksaan kesehatan jauh lebih praktis dan nyaman, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mandiri (self-monitoring dan self-decision making).
Gagasan pengembangan MOLITAV telah berjalan selama enam tahun, namun semangat kewirausahaan mulai tumbuh kuat pada awal tahun 2024. Sang inovator menyadari bahwa hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Tantangan nyata dunia kesehatan hanya bisa dijawab melalui praktik dan keberanian untuk membangun bisnis berbasis inovasi lokal. Dari sinilah, MOLITAV bertransformasi menjadi startup di bidang alat kesehatan (ALKES UMKM) yang berkomitmen menguatkan kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Tujuan utama MOLITAV adalah menghadirkan alat pemantauan pasien yang dapat digunakan secara luas, termasuk di daerah-daerah dengan keterbatasan fasilitas medis. Keberadaan alat ini diharapkan dapat mempercepat proses pemeriksaan, menekan biaya layanan, serta meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memantau kesehatannya sendiri. Lebih jauh, pengembangan MOLITAV juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi dengan membuka peluang bagi UMKM lokal untuk turut serta dalam produksi alat kesehatan dalam negeri. Dengan demikian, MOLITAV tidak hanya menjawab tantangan di bidang medis, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Sebagaimana disampaikan oleh Direktur Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia (DIRBT UI), Dr. Chairul Hudaya, Ph.D., “Inovasi seperti MOLITAV adalah bentuk nyata kontribusi sivitas akademika dalam memperkuat kemandirian bangsa di bidang kesehatan. Produk ini menunjukkan bahwa riset dapat berdampak langsung bagi masyarakat jika diiringi dengan semangat kewirausahaan dan keberlanjutan.”
Menutup pernyataannya, Juan Karnadi, selaku CEO MOLITAV, menyampaikan harapan kolaboratifnya, “Harapannya ya semua bisa bersinergi. Anda punya latar belakang teknik, medis, atau bahkan hanya semangat belajar — Anda bisa terlibat. Kita bisa kok menciptakan alat-alat kesehatan buatan anak bangsa dan memperbaiki mekanisme pemeriksaan kesehatan di Indonesia yang masih banyak manual di 80% fasilitas kesehatan kita sendiri. Mari kita jadikan teknologi ini sebagai alat perjuangan untuk kemandirian kesehatan Indonesia.”
Dengan prinsip cepat, portabel, dan non-invasif, MOLITAV menegaskan posisinya sebagai inovasi strategis yang tidak hanya membawa manfaat bagi sektor kesehatan, tetapi juga memperkuat ekosistem teknologi medis buatan Indonesia menuju masa depan yang lebih mandiri dan berdaya.
Permasalahan pemeriksaan kesehatan di Indonesia masih diwarnai oleh keterbatasan alat monitoring pasien yang invasif, tidak portabel, dan belum terhubung secara real-time. Kondisi ini memperlambat pelayanan medis, meningkatkan biaya, serta membuat akses terhadap alat kesehatan tidak merata—terutama di fasilitas kesehatan kelas C ke bawah. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hingga tahun 2022, hanya sekitar 16,4% fasilitas kesehatan di Indonesia yang memiliki alat monitoring pasien, sementara 94% alat kesehatan masih merupakan produk impor. Situasi ini menjadi dorongan utama lahirnya MOLITAV, inovasi alat pemantauan pasien yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan sistem kesehatan yang lebih cepat, efisien, dan mandiri.
MOLITAV hadir sebagai perangkat monitoring pasien berbasis IoT yang portabel, cepat, dan sepenuhnya non-invasif. Berbeda dengan alat konvensional, MOLITAV memungkinkan pengguna memantau kondisi tubuh hanya dengan meletakkan jari pada sensor, tanpa perlu pengambilan darah atau menembus permukaan kulit. Hasil pemeriksaan dapat diperoleh dalam waktu satu menit, dan data dikirim langsung ke dashboard tenaga medis secara real-time. Inovasi ini menjadikan pemeriksaan kesehatan jauh lebih praktis dan nyaman, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mandiri (self-monitoring dan self-decision making).
Gagasan pengembangan MOLITAV telah berjalan selama enam tahun, namun semangat kewirausahaan mulai tumbuh kuat pada awal tahun 2024. Sang inovator menyadari bahwa hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Tantangan nyata dunia kesehatan hanya bisa dijawab melalui praktik dan keberanian untuk membangun bisnis berbasis inovasi lokal. Dari sinilah, MOLITAV bertransformasi menjadi startup di bidang alat kesehatan (ALKES UMKM) yang berkomitmen menguatkan kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Tujuan utama MOLITAV adalah menghadirkan alat pemantauan pasien yang dapat digunakan secara luas, termasuk di daerah-daerah dengan keterbatasan fasilitas medis. Keberadaan alat ini diharapkan dapat mempercepat proses pemeriksaan, menekan biaya layanan, serta meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memantau kesehatannya sendiri. Lebih jauh, pengembangan MOLITAV juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi dengan membuka peluang bagi UMKM lokal untuk turut serta dalam produksi alat kesehatan dalam negeri. Dengan demikian, MOLITAV tidak hanya menjawab tantangan di bidang medis, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Sebagaimana disampaikan oleh Direktur Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia (DIRBT UI), Dr. Chairul Hudaya, Ph.D., “Inovasi seperti MOLITAV adalah bentuk nyata kontribusi sivitas akademika dalam memperkuat kemandirian bangsa di bidang kesehatan. Produk ini menunjukkan bahwa riset dapat berdampak langsung bagi masyarakat jika diiringi dengan semangat kewirausahaan dan keberlanjutan.”
Menutup pernyataannya, Juan Karnadi, selaku CEO MOLITAV, menyampaikan harapan kolaboratifnya, “Harapannya ya semua bisa bersinergi. Anda punya latar belakang teknik, medis, atau bahkan hanya semangat belajar — Anda bisa terlibat. Kita bisa kok menciptakan alat-alat kesehatan buatan anak bangsa dan memperbaiki mekanisme pemeriksaan kesehatan di Indonesia yang masih banyak manual di 80% fasilitas kesehatan kita sendiri. Mari kita jadikan teknologi ini sebagai alat perjuangan untuk kemandirian kesehatan Indonesia.”
Dengan prinsip cepat, portabel, dan non-invasif, MOLITAV menegaskan posisinya sebagai inovasi strategis yang tidak hanya membawa manfaat bagi sektor kesehatan, tetapi juga memperkuat ekosistem teknologi medis buatan Indonesia menuju masa depan yang lebih mandiri dan berdaya.
Permasalahan pemeriksaan kesehatan di Indonesia masih diwarnai oleh keterbatasan alat monitoring pasien yang invasif, tidak portabel, dan belum terhubung secara real-time. Kondisi ini memperlambat pelayanan medis, meningkatkan biaya, serta membuat akses terhadap alat kesehatan tidak merata—terutama di fasilitas kesehatan kelas C ke bawah. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hingga tahun 2022, hanya sekitar 16,4% fasilitas kesehatan di Indonesia yang memiliki alat monitoring pasien, sementara 94% alat kesehatan masih merupakan produk impor. Situasi ini menjadi dorongan utama lahirnya MOLITAV, inovasi alat pemantauan pasien yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan sistem kesehatan yang lebih cepat, efisien, dan mandiri.
MOLITAV hadir sebagai perangkat monitoring pasien berbasis IoT yang portabel, cepat, dan sepenuhnya non-invasif. Berbeda dengan alat konvensional, MOLITAV memungkinkan pengguna memantau kondisi tubuh hanya dengan meletakkan jari pada sensor, tanpa perlu pengambilan darah atau menembus permukaan kulit. Hasil pemeriksaan dapat diperoleh dalam waktu satu menit, dan data dikirim langsung ke dashboard tenaga medis secara real-time. Inovasi ini menjadikan pemeriksaan kesehatan jauh lebih praktis dan nyaman, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mandiri (self-monitoring dan self-decision making).
Gagasan pengembangan MOLITAV telah berjalan selama enam tahun, namun semangat kewirausahaan mulai tumbuh kuat pada awal tahun 2024. Sang inovator menyadari bahwa hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Tantangan nyata dunia kesehatan hanya bisa dijawab melalui praktik dan keberanian untuk membangun bisnis berbasis inovasi lokal. Dari sinilah, MOLITAV bertransformasi menjadi startup di bidang alat kesehatan (ALKES UMKM) yang berkomitmen menguatkan kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Tujuan utama MOLITAV adalah menghadirkan alat pemantauan pasien yang dapat digunakan secara luas, termasuk di daerah-daerah dengan keterbatasan fasilitas medis. Keberadaan alat ini diharapkan dapat mempercepat proses pemeriksaan, menekan biaya layanan, serta meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memantau kesehatannya sendiri. Lebih jauh, pengembangan MOLITAV juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi dengan membuka peluang bagi UMKM lokal untuk turut serta dalam produksi alat kesehatan dalam negeri. Dengan demikian, MOLITAV tidak hanya menjawab tantangan di bidang medis, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Sebagaimana disampaikan oleh Direktur Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia (DIRBT UI), Dr. Chairul Hudaya, Ph.D., “Inovasi seperti MOLITAV adalah bentuk nyata kontribusi sivitas akademika dalam memperkuat kemandirian bangsa di bidang kesehatan. Produk ini menunjukkan bahwa riset dapat berdampak langsung bagi masyarakat jika diiringi dengan semangat kewirausahaan dan keberlanjutan.”
Menutup pernyataannya, Juan Karnadi, selaku CEO MOLITAV, menyampaikan harapan kolaboratifnya, “Harapannya ya semua bisa bersinergi. Anda punya latar belakang teknik, medis, atau bahkan hanya semangat belajar — Anda bisa terlibat. Kita bisa kok menciptakan alat-alat kesehatan buatan anak bangsa dan memperbaiki mekanisme pemeriksaan kesehatan di Indonesia yang masih banyak manual di 80% fasilitas kesehatan kita sendiri. Mari kita jadikan teknologi ini sebagai alat perjuangan untuk kemandirian kesehatan Indonesia.”
Dengan prinsip cepat, portabel, dan non-invasif, MOLITAV menegaskan posisinya sebagai inovasi strategis yang tidak hanya membawa manfaat bagi sektor kesehatan, tetapi juga memperkuat ekosistem teknologi medis buatan Indonesia menuju masa depan yang lebih mandiri dan berdaya.